Jun 7, 2012

SD di Jepang: Kunjungan Guru ke Rumah 家庭訪問

Selama beberapa tahun ini, setiap tahun sekali (dan mulai tahun ini 2 kali) setiap bulan Mei atau Juni, saya selalu senewen dengan kunjungan guru ke rumah untuk memantau anak didiknya dan "berakrab-akrab" dengan orang tuanya. Hari ini tanggal 7 Juni saya menerima guru wali kelas Banyu dan tanggal 29 Mei yang lalu saya menerima 2 orang wali kelas Wisanggeni di rumah.

Sebenarnya saya suka dengan program kunjungan guru ke rumah ini, hanya saja yang selalu membuat saya senewen adalah karena saya harus bersih-bersih (baca: bersiiiiih sekali) rumah sampai ke bagian-bagian kecil pun harus saya bersihkan karena saya tidak mau dianggap tinggal di rumah yang kotor. Maklumlah orang Jepang sangat ketat dan mempunyai persepsi yang berbeda mengenai kebersihan daripada kita. Bagi mereka dapur dan kamar kecil adalah tempat yang harus selalu bersih dan wangi. Kerajinan dan kerapian serta kebersihan suatu tempat diukur dari apakah tempat itu kamar kecilnya bersih dan wangi atau tidak. Kalau kamar kecilnya wangi artinya ruang lain pun pasti kebersihannya sudah terjamin.

Jadi pontang-pantinglah saya hari ini menggosok dapur saya dan bagian-bagian yang bisa terlihat dari dapur kami. Untuk informasi ruang dapur di rumah-rumah Jepang biasanya terletak di bagian depan dan jadi satu dengan ruang makan yang sekaligus berfungsi sebagai ruang duduk untuk menerima tamu. Untuk menghindari bau-bauan yang aneh, saya selalu menaruh sekaligus 3 pewangi di pintu masuk (genkan) rumah kami. Selain itu di kamar kecil 2 pewangi dan 1 pewangi lagi di ruang TV. Tak lupa sebelum jam kedatangan wali kelas, saya semprotkan pewangi lavender di sekitar dapur. Satu lagi yang selalu saya pegang adalah, saya tidak akan masak makanan Indonesia apalagi yang mengandung terasi 1 hari sebelum jadwal kunjungan! Efek bau terasi sangat dasyat karena baunya tidak akan hilang berhari-hari meski saya sudah menyalakan exhauster di atas kompor saya dan membuka jendela lebar-lebar.

Pernah suatu hari ketika saya masih kuliah S2 dan tinggal di dormitory untuk mahasiswa asing yang memiliki dapur bersama, saya membuat sambal terasi. Tentu saja terasi saya goreng dan baunya yang sedap itu menguar kemana-kemana. Saat itu saya lupa mengantisipasi bahwa bau terasi goreng itu bisa terbawa angin sampai ke bagian depan yang jaraknya 50 meter dari dapur. Celakanya waktu itu saya tinggal di lantai 1 yang terletak di gedung paling depan (dormitory saya itu terdiri dari 4 gedung utama masing-masing 5 atau 6 lantai saya lupa) dimana kantor pengelola berada. Saya sebenarnya sudah menutup pintu dapur dan jendela rapat-rapat supaya baunya tidak kemana-mana, tetapi apa boleh buat rupanya beberapa orang pegawai penasaran dengan bau yang menusuk itu dan mencari sumbernya. Begitu melihat saya, mereka bertanya "Kamu masak apa kok baunya keras banget begini?" Saya cuma bisa cengar cengir sambil menerangkan kalau terasi itu dibuat dari udang yang difermentasi.

Jadi kembali ke kunjungan guru, selama ini sih kunjungan guru berjalan lancar. Dari day care tempat Wisang dititipkan biasanya guru bertanya kalau di rumah Wisang main apa, kalau libur kemana, kondisi kesehatan dan sebagainya. Guru SD biasanya selain bertanya tentang keadaan si anak di rumah, juga mengabarkan bagaimana sikap si anak di sekolah. Menurut ibu K, wali kelasnya, Banyu dianggap ringan tangan karena suka membantu teman yang bertugas melayani anak-anak makan siang meski itu bukan gilirannya. Selain itu Banyu termasuk dianggap anak yang lumayan daya tangkapnya karena selalu dapat nilai 100 dalam ulangan harian. Oh ya, ulangan harian ini tidak pernah dijadwalkan, jadi selalu ulangan dadakan saja.

Kunjungan guru biasanya tidak berlangsung terlalu lama. Antara 20-30 menit setiap kunjungan. Saya merasa diperhatikan juga dengan adanya kunjungan seperti ini karena kami para orang tua murid (terutama yang bekerja) tidak punya banyak kesempatan untuk berjumpa dengan wali murid karena semua anak harus berangkat dan pulang sekolah sendiri tanpa diantar-jemput oleh orang tuanya, kecuali anak berkebutuhan khusus. Selain guru berkunjung ke rumah murid, kami para orang tua murid secara berkala juga diundang berpartisipasi dalam pada hari open class untuk menyaksikan proses belajar mengajar yang disebut dengan Jugyo Sankan sehingga kami orang tua murid bisa langsung menyaksikan bagaimana anak-anak berinteraksi dengan teman dan gurunya di sekolah.

Nenek Morita, atlit berusia 88 tahun


Pagi ini saya terpesona di depan TV melihat seorang nenek bernama Morita dari Kumamoto yang masih terus menjadi atlit lari jarak pendek di usianya yang ke-88. Rekor terbaiknya diciptakan ketika ia berusia 80 tahun yaitu 19 detik pada cabang lari 100 meter. Jangan mengira ia sudah menjadi atlit sejak muda. Ia baru serius berlari sebagai atlit ketika berumur 70 tahun. Ketika itu, rumah yang ditinggali bersama suaminya terbakar habis dan ia sangat putus asa karena kehilangan segala-galanya. Suatu hari ia datang ke acara perlombaan olah raga di SD (undokai) di dekat tempat tinggalnya. Perlombaan olah raga di SD ini biasanya serupa family gathering, jadi selain si anak dan orang tuanya, kakek, nenek, bahkan para tetangga pun turut diundang untuk menonton. Selain untuk para pelajar SD tersebut, mata lomba tertentu bisa diikuti oleh orang tua murid, guru-guru dan karyawan sekolah, bahkan para kakek, nenek, maupun penduduk lingkungan sekitar. 

Nenek Morita ketika diwawancarai di rumahnya

Kembali ke cerita nenek Morita, ketika ia datang ke acara undokai itu, ia ikut dalam mata lomba lari 100 meter yang sedianya ditujukan untuk wanita berusia 40an, namun karena kekurangan peserta maka ia yang saat itu berusia 70 tahun pun diperbolehkan ikut dan berhasil menempati peringkat kedua. Ia berkata, saat itulah ia merasakan bahwa lari adalah hal yang menyenangkan dan mulai menekuninya secara serius. Saat itu ia teringat bahwa memang ketika duduk di bangku SD ia lebih senang berolah raga daripada belajar di dalam kelas.

Nenek Morita yang sangat sehat di usia lanjut ini tidak mempunyai pantangan makan apapun. Tadinya saya mengira ia mempunyai pola diet khusus untuk menjaga staminanya. Tapi ternyata tidak. Bahkan setiap hari selama puluhan tahun ia selalu sarapan daging yang di tumis, telur mentah dan salad plus nasi putih. Seminggu dua kali ia pergi makan siang ke restoran unagi (semacam belut). Resep sehat dan panjang umurnya adalah makan apapun yang disukainya dan menikmati hidup bersama teman-temannya. (suaminya meninggal dunia 7 tahun yang lalu).

Seminggu tiga kali ia berlatih lari di lapangan umum di kota Kumamoto bersama anak-anak SD selama 2 jam. Bukan hanya lari biasa, tetapi lari sambil menarik beban berupa ban bekas yang dililit dengan tali di perutnya. Selain itu ia juga rutin berenang masing-masing 25 meter gaya bebas dan gaya kupu-kupu lalu dilanjutkan dengan sit up di dalam kolam renang. Melihat aktivitas olah raganya, sangat sulit mempercayai bahwa ia berusia 88 tahun! Ketika tim dari TV yang meliput nenek Morita meminta agar ia mengukur lemak di tubuhnya menggunakan alat medis, ternyata ia hanya memiliki 1% lemak di organ dalamnya termasuk jantung (angka 1 persen ini berarti hanya 1/6 dari angka normal wanita Jepang seusianya) dan organ dalam tubuhnya dinyatakan berusi 53 tahun!

Nenek Morita sedang berlatih
Di rumahnya, ia memiliki lebih dari 300 piala dan medali yang berhasil dikumpulkannya selama 18 tahun mengikuti pertandingan atletik baik di Jepang maupun di luar negeri. Ia memiliki beberapa rekor terbaik tingkat dunia untuk orang tua seusianya dan rencananya di usia 90 tahun ia akan mengikuti pertandingan atletik tingkat dunia dan berambisi memecahkan rekor lari 200 meter nya. 

Melihat nenek Morita ini saya seakan dijewer dengan keras. Berbahagialah kita yang berbadan bugar dan berusia muda. Kadang-kadang kita lupa untuk memanfaatkan badan kita dengan sebaik-baiknya. Dan yang lebih utama adalah kadang-kadang kita lupa untuk memiliki semangat hidup tinggi dan menjalani hidup dengan senang dan penuh makna hanya karena menghadapi sedikit kesulitan.

Terima kasih sudah menginspirasi saya hari ini. Morita san, arigato!

May 21, 2012

Sanja Festival 三社祭

Ajang pamer tato 

Hari sabtu minggu yang lalu tanggal 19 Mei, saya bersama seorang sahabat pergi ke kuil Asakusa untuk melihat Sanja Festival. Festival ini sudah diadakan sejak zaman Edo, tepatnya sejak tahun 1872. Pada waktu itu Sanja Festival diadakan setiap tahun pada tanggal 17 dan 18 Mei, namun sekarang festival ini diadakan setiap minggu ketiga di bulan Mei pada hari jumat, sabtu, dan minggu.

Asakusa merupakan daerah shita machi. Shita machi adalah sebutan untuk area tempat tinggal bagi rakyat golongan pedagang (商人)dan pengrajin (職人). Pada zaman Edo masyarakat dibagi 4 kelas yang disebut shinokosho (士農工商). Kelas tertinggi tentu saja diduduki oleh golongan prajurit yang disebut bushi (武士). Para bushi dan keluarganya ini tinggal di daerah dalam lingkungan benteng Edo, sedangkan pedagang dan pengrajin tinggal di daerah sekitar benteng yang disebut Jokamachi (城下町). Kelas berikutnya ditempati oleh petani (農民), petani tinggal di desa-desa jauh dari pusat kota Edo. Meskipun secara hierarki, para petani ini menempati golongan kedua setelah prajurit tetapi dalam prakteknya mereka adalah golongan yang selalu diperas keringatnya melalui pajak (waktu itu berupa beras) yang sangat tinggi untuk membiayai hidup para prajurit. Kelas ketiga dan keempat berturut-turut diduduki oleh pengrajin dan pedagang. Para pengrajin dan pedagang ini tidak dikenai pajak dan memiliki berbagai previlage yang tidak dimiliki oleh golongan petani. Pada akhirnya kedua golongan ini nantinya malah memiliki andil yang besar dalam pembentukan budaya masyarakat mulai pertengahan sampai akhir zaman Edo.

Kembali ke Sanja Festival, festival ini merupakan salah satu dari 3 festival terbesar yang diadakan pada zaman Edo. Mengapa disebut Sanja, yang berarti tiga kuil, sebab pada awalnya festival ini diadakan di tiga buah kuil yang terletak di Asakusa. Berbicara tentang Asakusa tentu saja tidak bisa lepas dari Yakuza atau mafia Jepang. Asakusa adalah salah satu basis yakuza terbesar di Jepang. Para yakuza ini tentu saja juga ikut ambil bagian dalam festival ini dengan mengangkat Mikoshi (tempat tinggal dewa) dengan hanya menggunakan fundoshi, yaitu semacam celana dalam tradisional Jepang berupa kain putih yang dililitkan di sekeliling selangkangan seperti para pemain sumo. Pada tahun 2007 bahkan dari 30 kelompok pengusung Mikoshi 70 persen diantaranya adalah kelompok yakuza. 

Berikut saya posting beberapa foto Sanja Festival tahun 2012.

Ramai-ramai mengusung mikoshi

Penarik becak jinrikisha

Nakamise yang selalu penuh sesak

Pembuka jalan di depan mikoshi

Topeng tradisional



Yakuza dengan celana dalam fundoshi



Gerhana Matahari Cincin 2012 Annular Solar Eclipse 金環日食

Hari ini tanggal 21 Mei 2012 hampir semua orang di Jepang sedang heboh dengan fenomena alam gerhana matahari total yang bisa dilihat sekitar pukul 7.30 pagi di seputaran Tokyo. Gerhana matahari total ini terakhir terjadi 25 tahun yang lalu, dan untuk daerah Tokyo, Kanagawa dan sekitarnya bisa dilihat dengan jelas 173 tahun yang lalu. Oleh karena itu bayangkan betapa excited nya kami di sini menyambut gerhana matahari ini. 

Banyu sudah mendapat pengumuman untuk melihat gerhana ini secara massal dari sekolah. Bukan hanya murid-murid saja, tetapi para wali murid boleh datang bersama keluarga, tetangga, atau siapa saja lalu melihat gerhana ini dari halaman sekolah bersama-sama. Tentu saja tidak boleh melihat gerhana ini dengan mata telanjang, sehingga para murid diberi kaca mata khusus untuk melihatnya. Kaca mata khusus ini dijual di toko-toko dengan harga berkisar antara 1400-1800 yen. Selain itu untuk memberi bayangan kepada murid-murid, sejak 1 atau 2 minggu sebelumnya di kelas sudah diputar film mengenai gerhana matahari total ini. Selain itu guru-guru juga mengajari murid-murid bagaimana cara menggunakan kaca mata khusus itu dan membuat simulasi gerhana agar murid-murid bisa menggunakan kaca mata itu dengan benar pada waktunya. Sebagai tambahan, Banyu hari ini harus berangkat pukul 6.40 ke sekolah. Terpaksalah kami semua bangun pagi-pagi hehehe..

Wah tinggal 6 menit lagi matahari akan tertutup bulan (pukul 7.34). Televisi sejak pagi sudah heboh menyiarkan proses gerhana ini. Ada yang sampai mengundang bintang tamu grup penyanyi terkenal, SMAP, untuk menyanyi live di atas atap gedung kantor mereka tepat saat gerhana matahari cincin berlangsung selama 6 menit. Semua televisi sampai saat-saat terakhir masih tetap menghimbau masyarakat agar tidak melihat gerhana dengan mata telanjang, sunglass, kamera dan alat-alat lain yang tidak seusai karena bisa merusak kornea mata.







Bahkan saya lihat di televisi, ada yang sengaja mengadakan upacara pernikahan pagi ini di tepi pantai, dengan harapan upacara itu berlatar belakang gerhana ini. Romantis sekali kaaaan..... Sayangnya, hari ini agak berawan, jadi kadang-kadang gerhana terlihat jelas dan kadang-kadang tertutup awan tipis.

Terus terang saya terkesan sekali dengan gerhana matahari kali ini. Bukan hanya karena keindahannya tetapi karena persiapan menghadapi gerhana ini dengan detil. Setiap hari Banyu pulang dari sekolah membawa berbagai macam pengumuman, himbauan dan berbagai edaran mengenai cara melihat gerhana matahari dengan benar. Selain itu kaca mata khusus juga dijual di berbagai tempat sehingga orang tidak kesulitan membelinya.

Mudah-mudahan tahun 2030 saya masih bisa melihat gerhana matahari cincin yang diperkirakan akan bisa dilihat di Pulau Hokkaido.

May 16, 2012

SD di Jepang: Bincang-Bincang Dengan Kepala Sekolah 語り会

Tanggal 15 Mei 2012, sebelum saya menghadiri open class untuk kelas satu, saya berkesempatan menghadiri acara bincang-bincang (語り会) dengan kepala sekolah. Acara ini khusus diadakan dengan mengundang wali murid kelas satu pada jam yang telah disepakati sebelumnya. Tujuannya adalah agar wali murid dan kepala sekolah saling mengenal lebih dalam dan mengerti bagaimana si anak dan orang tuanya. Selain itu kami para wali murid juga diharapkan agar saling mengenal lebih dekat satu sama lain.

Acara bincang-bincang ini hanya berlangsung selama 30 menit. Kebetulan saat itu  yang hadir pada jam yang sama dengan saya ada 4 orang lain. Kami diminta memperkenalkan diri dan menceritakan tentang anak kami, kelebihan dan kekurangannya, kesukaan dan hobinya, serta hal-hal lain termasuk hal yang kami kuatirkan baik dalam pelajaran maupun pergaulan di lingkungan baru di SD.

Rasanya jadi diperhatikan sekali dengan adanya acara ini. Selain bisa merasa lebih dekat dan mendapat beberapa advis, kami para wali murid juga dapat saling bertukar informasi.

SD di Jepang: Open Class 授業参観

Hari ini untuk pertama kalinya saya menghadiri open class di SD Banyu. Sejujurnya hari ini saya tidak tahu kalau kami para orang tua murid boleh ikut berada di dalam kelas menyaksikan proses belajar mengajar karena hari ini saya sebenarnya diundang untuk "ngobrol-ngobrol" dengan kepala sekolah. Ternyata setelah acara bincang-bincang itu selesai kami (5 orang wali murid) dipersilakan pergi ke kelas selama sekitar 10 menit.

Sebenarnya apa sih open class ini. Open class biasanya diadakan beberapa kali dalam satu tahun. Kebetulan kali ini yang pertama setelah anak-anak kelas satu masuk pada bulan April lalu. Tujuannya adalah supaya orang tua bisa menyaksikan proses belajar mengajar dan melihat bagaimana si anak ketika berada di dalam kelas. Kami para orang tua murid yang hadir berdiri dengan tenang di belakang kelas sambil memperhatikan guru dan murid berinteraksi. Sayangnya karena alasan privasi kami dilarang mengambil foto di kelas. Selain itu tentu saja kegiatan memotret bisa mengganggu konsentrasi guru dan juga murid-murid yang mungkin saja juga tegang karena tiba-tiba ada ibu-ibu yang ikut di dalam kelas. 

Sayangnya hari ini ketika saya tiba di kelas Banyu, jam pelajaran ke tiga baru saja usai dan mereka baru akan mulai tes bahasa Jepang yang akan dimulai pada jam ke empat. Ada dua baru yang saya temui hari ini. Yang pertama, setiap akan mulai jam pelajaran, anak yang bertugas hari itu (touban 当番)mengatakan "Jam pelajaran ke.... akan dimulai" dan teman-teman sekelasnya yang duduk dengan sikap tegak akan menyahut "Mulaaaaaiiiiii." Wow lucu juga ya, meski saya sudah berkali-kali diminta mengajar di SD untuk mata pelajaran Multicultural Understanding, tapi saya belum pernah menemui yang seperti ini. Yang kedua, kebetulan ketika kami datang mereka akan menempuh tes alias ulangan (dan ulangan ini tidak pernah diumumkan kapan akan diadakan, jadi selalu mendadak), begitu ibu guru wali kelas mengatakan akan ada tes, anak-anak langsung sibuk mengubah arah meja dan kursinya. Awalnya saya kaget juga, ini pada ngapain sih kok ribut banget geser-geser meja dan kursi. Biasanya pada jam pelajaran biasa mereka duduk berdua-dua dalam dua deret dengan meja kursi masing-masing yang tidak terangkai. Tetapi ketika ulangan, mereka harus duduk sendiri-sendiri, dan separuh kelas menghadap ke tembok kanan serta separuhnya lagi ke tembok kiri. Katanya sih supaya gak pada nyontek-nyontekan. Bagus juga kan. 

Ulangan Matematika Banyu beberapa hari yang lalu
Dapat nilai 100 lhooooo....
Saya lihat Banyu segera mengerjakan soal-soal begitu lembar soal dibagikan. Agar kami tidak mengganggu jalannya ulangan, kami lalu diajak ke kelas lain, yang kebetulan sedang ada pelajaran bahasa Jepang pada jam ke empat itu. Untuk informasi, pelajaran SD kelas satu adalah Matematika, Bahasa Jepang, Pendidikan Moral, Musik, Olahraga, dan Ketrampilan, meski demikian yang hampir dominan ada setiap hari adalah olahraga, bahasa Jepang dan matematika. Di kelas sebelah yang sedang belajar bahasa Jepang, kami melihat bagaimana anak-anak diajari membaca. Mereka harus duduk dengan sikap tegak dan buku dipegang di depan mereka (tidak boleh ditidurkan di meja) lalu membaca bersama bagian yang sudah ditentukan dengan suara keras. Apa yang dibaca ini biasanya sudah sesuai dengan PR membaca di rumah yaitu honyomi. Saya lihat ibu guru yang mengajar dengan aktif menggunakan banyak alat peraga mulai dari gambar sampai kantong plastik dan topi beruang. Kebetulan yang dibaca adalah cerita seekor beruang yang menemukan kantong lalu diserahkan kepada temannya si tupai. Tetapi setelah dilihat ternyata isi kantong itu sudah berjatuhan karena kantongnya robek. Setelah membaca ibu guru bertanya beberapa isi bacaan, dan anak-anak saya lihat sangat aktif mengangkat tangan. Anak yang ditunjuk untuk menjawab segera berdiri dari duduknya dan pindah ke belakang kursinya lalu mulai menjawab dengan suara keras.

Saya sangat mengapresiasi adanya sistem open class ini. Saya rasa ini adalah kesempatan yang baik sekali bagi orang tua untuk bisa secara langsung melihat dari dekat bagaimana anak-anak belajar di dalam kelas. Saya tidak tahu apakah di Indonesia ada sekolah yang menerapkan hal seperti ini, tetapi rasanya bagus juga kalau sistem ini bisa ditiru di sana.

May 1, 2012

SD di Jepang: Belajar Baca -Honyomi 本読み-

Mulai hari ini, tanggal 1 Mei 2012 Banyu setiap hari bertambah PR nya. Selain PR matematika atau menulis huruf, mulai hari ini setiap hari Banyu harus membaca dengan keras atau dengan kata lain membaca dengan mengeluarkan suara dari bacaan yang sudah ditentukan. Ini adalah pekerjaan rumah mata pelajaran Bahasa Jepang (Kokugo - 国語)yang mendorong anak agar terbiasa membaca dengan lancar dan melafalkan setiap kalimat dengan jelas ketika membaca serta lancar menulis. Jadi latihan membaca seperti ini dilakukan di semua sekolah dasar di Jepang.

Di sekolah Banyu, bacaan diambil dari buku pelajaran Kokugo. Judul setiap bacaan sudah ditentukan dan biasanya disesuaikan dengan musim. Misalnya saat musim semi, bacaan yang harus dibaca mengandung kata bunga atau sakura dan sejenisnya. Bila musim panas tiba, bacaan berisi hal-hal yang identik dengan musim panas seperti kodok, serangga dan sebagainya. Bacaan ini awalnya ditulis dengan huruf hiragana, lalu meningkat ke huruf katakana dan akhirnya huruf kanji.

Buku Pelajaran Kokugo
Setiap anak setiap bulan dibagi sebuah kartu yang disebut Kartu Honyomi (Honyomi Kaado - 本読みカード). Setiap hari selama sebulan anak harus membaca bacaan yang sudah ditentukan dan harus dinilai. Siapa yang menilai?? Tentu saja orang tua. Jadi sebenarnya ini adalah PR bersama untuk anak dan orang tuanya hehehehe... 

Kartu Honyomi untuk bulan Mei
Orang tua harus memberi penilaian setiap hari di kolom yang sudah ditentukan

Poin yang harus dinilai sudah ditentukan oleh sekolah. Di sekolah Banyu, SD T, ada 3 poin yang dinilai yaitu: 
1. Kemampuan membaca tanpa salah.
2. Kejelasan lafal setiap kosa kata.
3. Apakah cara membaca bila ada koma atau titik sudah tepat atau belum.

Selain itu, cara menilainya juga sudah ditetapkan. 
1. Segitiga bila dianggap masih kurang.
2. Bulat bila dianggap sudah baik.
3. Bulat dengan titik di dalamnya bila sudah sangat baik.

Perhatian: Anak harap membaca 2 atau 3 kali
Tentu saja tidak mudah membaca dan menilai dengan obyektif dalam sekejap. Orang tua juga harus mengerti setiap kata yang dibaca dan bisa membaca hiragana, katakana dan kanji. Si anak harus membaca antara 2 atau 3 kali sesuai anjuran di kartu itu. Biasanya saya menyuruh Banyu membaca 3 atau 4 kali supaya saya bisa menilai semua poin yang diminta. Karena kalau hanya satu kali saja kita akan sulit sekali menilai pelafalan dan sebagainya. Banyu biasanya sudah mulai malas-malasan ketika saya minta dia membaca untuk yang ketiga kalinya. Saya tahu, pasti bosan sekali baginya harus membaca tulisan yang sama berkali-kali, hehehe.... Kalau sudah begitu biasanya dia bukan membaca tapi mengeluarkan suara seolah-olah membaca padahal dia hanya mengucapkan apa yang sudah dia hafal. Tentu saja karena anak kecil mudah dan cepat sekali menghafal, biasanya yang dibaca 95 persen sudah benar, tapi toh saya tetap harus menilai yang 5 persen kan. Jadi saya selalu waspada kalau dia sudah mulai bosan dan menghafal bacaan itu, bukan membacanya, pasti saya minta dia mengulanginya lagi. Hehehe....

Selain Honyomi ini, setiap pagi sebelum pelajaran dimulai, mulai pukul 8.25 selama 10 menit semua anak harus membaca dengan tenang di mejanya masing-masing buku apa saja yang mereka sukai. Jam ini disebut Asa Dokusho yang berarti "Membaca di Pagi Hari" Buku-buku itu bisa dipilih dari rak buku yang ada di setiap kelas. Jangan harap ada komik di rak buku itu karena memang anak-anak dilarang membaca atau bahkan membawa komik ke dalam lingkungan sekolah. Buku-buku yang ada di rak buku biasanya buku bacaan ringan untuk anak-anak (disesuaikan dengan umur dan kelasnya) yang mengandung ajaran moral. 

Dengan adanya jam Membaca Pagi dan PR membaca keras ini saya jadi tahu mengapa orang Jepang suka sekali membaca. Sejak mereka mulai mengenal huruf, mereka sudah dibiasakan membaca dengan baik dan benar dan pemerintah melalui sekolah-sekolah menggalakkan kegiatan membaca ini secara nyata. Jadi meskipun pekerjaan saya jadi bertambah satu lagi untuk menemani dan menilai Banyu membaca, saya tentu saja dengan senang hati melakukannya dan saya bersyukur saya bisa membaca huruf Jepang, hehehe....

Sagamihara, 1 Mei 2012

GW di rumah Mucchi

Hari ini kami diundang makan siang di rumah teman sesama orang Indonesia yang juga punya anak kecil lucu yang biasa kami panggil Mucchi. Makan siang ini tidak merayakan sesuatu yang khusus, hanya ingin kumpul-kumpul dan makan-makan masakan Indonesia, mumpung liburan Golden Week (GW) sudah dimulai. Saya sendiri sama sekali gak bisa masak dan gak pernah punya keinginan untuk bisa masak, jadi selalu terpesona dengan teman-teman yang rajiiiiin sekali masak berbagai menu Indonesia yang bumbunya amat sangat rumit (menurut saya), udah gitu enak lagi masakannya, hehehehe...

Yang lain sibuk pose, Wisang sibuk nglirik ke beranda orang hehehhe...
Selain kami sekeluarga, ada juga Cheppy, Fifi, Luki, keluarga Erna dan keluarga Iwan, semuanya berasal dari Jogja dan sekitarnya, jadi kami sibuk bertukar gosip sementara anak-anak kami sudah sibuk sendiri main sambil jerit-jerit gak karuan. Tentu saja gak asik kan kalau banyak anak kecil tanpa ada yang nangis, hehehhe... Jadi yah begitulah, acara tukar menukar gosip kami diselingi dengan beberapa kali tangisan anak karena berantem, atau jatuh atau kejeduk kepalanya, atau bahkan keinjak rambutnya, heheheh...

Sibuk gokeg-gojeg sama tante Cheppy :))

Banyu jadi yang paling besar di antara anak-anak yang datang hari ini, setelah itu diikuti Sekar (5 tahun) putri pertama Iwan dan Beta, lalu Wisang, Galuh (putri kedua Iwan), Mucchi dan yang paling kecil sekaligus jadi bintang hari itu adalah Bima, putra Erna dan Eitaro. Bima baru 4 bulan dan wajahnya menggemaskan banget. Jadilah dia sibuk digendong sana sini oleh om-om dan tante-tante yang ada di situ, hehehehe...

Banyu, Mucchi dan yang paling mungil Bima
Sambil ngobrol tentu saja kami langsung menyantap masakan tuan rumah. Ada nasi uduk, ayam goreng, ayam panggang, sambal goreng ati, ikan pepes, dan makanan yang paling saya rindukan yaitu, BAKSO!! Waaaah puassss deh hari ini.

Thanks ya Mya n Mucchi.
Kapan-kapan undang kita lagi ya!

Dating Wisanggeni

Tanggal 24 April lalu, saya menyempatkan diri jalan-jalan berdua Wisanggeni. Kebetulan hari itu saya bisa kerja di rumah sampai jam 2 siang. Karena masih ada sedikit waktu sebelum harus menjemput Banyu pada pukul 5 sore, saya pingin juga mengistirahatkan otak sambil ngobrol-ngobrol sama Wisang. Hehehe... Untunglah hari itu Wisang setuju saya ajak naik kereta berdua sampai ke Machida. Tadinya dia ngotot minta diajak ke MacD, bukan karena suka makanannya sih, tapi kali ini Happy Set untuk anak-anak bonus hadiahnya adalah si super hero Kamen Rider Forze kesukaannya. Wisang (dan Banyu) tiap hari minggu selalu bela-belain bangun jam 7 pagi demi menonton si Forze ini lho. Haduuuh jadinya saya yang pingin bangun siangpun terpaksa ikut bangun juga karena denger kehebohan mereka.


Setelah saya bujuk-bujuk akhirnya Wisang setuju untuk masuk ke kafe ala Perancis kesukaan saya di Machida, Vie De France. Kafe ini menyajikan roti-roti yang selalu menggiurkan (minimal bagi saya hehehe..) mulai dari apple pie, kue yang toppingnya sayur-sayuran khas Jepang seperti umbi gobo (maaf saya gak ngerti bahasa Indonesianya Gobo itu apa, pokoknya sejenis umbi yang panjang2 deh), roti sosis, seafood, kacang merah, pita bread, salad daaaan sebagainya. Favorit saya di restoran ini adalah pita bread yang diisi dengan suwiran ayam kukus, daun2 herb, sedikit seafood dan sayur-sayuran seperti paprika, lettuce dan sebagainya yang disiram dengan sedikit olive oil. Aduuuh enaaaak banget deh pokoknya. Jadi hari itu pun saya memilih makan pita bread isi ayam kukus (setelah lama bingung memilih antara pita bread isi apokat udang atau isi ayam kukus) dan segelas es cocoa. Wisang seperti biasa selalu kebingungan (karena kebanyakan pilihan heheheh), tapi akhirnya dia memilih donat dari gula merah.

Ini dia si Pita Bread isi sayuran plus ayam kukus dan donat gula merah
Sayangnya karena kami kurang narsis jadi langsung makan aja sebelum difoto,
hasilnya ya bergini deh, jadi sedikit kurang cantik karena ada bekas gigitannya hehehe
Setelah membayar, duduklah kami di kursi sambil ngobrol kesana kemari. Lumayanlah sedikit quality time hanya berdua saja dengan Wisang, tanpa harus mendengar dia berdebat dengan kakaknya atau sibuk dengan papanya. Hanya berdua, mama dan Wisang, heheheh....

Sebenarnya ini bukan kali pertama saya kencan berdua Wisang, tapi biasanya karena waktunya lebih pendek, kami beli sesuatu di mini market dan makan di taman sambil ditemani burung-burung dara yang datang dan pergi.

Ternyata asik juga kalau bisa jalan-jalan hanya berdua dengan Banyu saja atau Wisang saja. Gak terlalu banyak energi keluar (untuk melerai mereka berantem hihihihiii...), tapi bisa ngobrol santai.

Kapan-kapan kita kencan lagi ya nak.


Kencan di taman dengan sepotong Onigiri

Sagamihara, 30 April 2012

Apr 29, 2012

Golden Week

Akhir pekan ini mulailah ritual libur panjang tahunan yang disebut Golden Week (GW) di Jepang. Golden Week ini sebetulnya hari libur gabungan 4 hari besar yaitu, Hari Showa tanggal 29 Mei yang merupakan hari besar untuk memperingati ulang tahun Kaisar Showa, Hari Undang-Undang Dasar yang merupakan peringatan hari mulai diberlakukannya Undang-Undang Dasar pada tanggal 3 Mei 1947, Hari Alam tanggal 4 Mei untuk berterima kasih kepada alam karena sudah memberi kehidupan kepada manusia, dan Hari Anak Laki-Laki tanggal 5 Mei (Hari Anak Perempuan diperingati setiap tanggal 3 Maret). Golden Week tahun ini terhitung panjang (9 hari) bila liburnya digabung dengan weekend sabtu dan minggu.

KOINOBORI
Golden Week biasanya digunakan untuk liburan dengan pasangan atau keluarga. Tidak sedikit yang ke luar negeri atau sekedar pulang kampung. Bisa dibayangkan bagaimana riuhnya dan macetnya lalu lintas disini. Pergi kemana-mana pasti padat, jadi biasanya saya menghindari pergi jauh ketika GW. Banyak event ketika liburan ini, terutama pada hari alam, biasanya kebun binatang gratis masuk. Tahun lalu kami pergi ke Ueno Zoo yang terkenal itu, tapi aduuuuuhhhh penuhnyaaaaa... Bukan liat binatang tapi liat orang deh jadinya, hehehee... Untung masuknya gratis jadi gak kerasa rugi-rugi banget. Mau liat panda yang lucu dan terkenal si Lili aja mesti ngantri 3 jam, aduuuh gak deh, mending kami liat binatang lain yang gak pake ngantri. Hari anak laki-laki juga biasanya banyak acara dimana-mana. Hari anak laki-laki ini biasanya ditandai dengan mengibarkan ikan koi besar yang terbuat dari kain yang disebut KOINOBORI di rumah-rumah yang memiliki anak laki-laki. Jadi di rumah kami pun saya sudah sejak awal april lalu mengibarkan mini koinobori di depan rumah, hehehhe... Selain itu, kami juga pergi ke Yokohama dan Showa Park yang masih terletak di sekitaran Tokyo aja.

GW 2011 di Ueno Zoo
GW tahun ini kami diundang menginap 2 hari di rumah seorang kenalan di Chiba. Selain itu gak ada acara khusus, mungkin pengen juga pergi ke Tama Zoo dan ajak anak-anak main ke semacam play land, atau mungkin hanya santai-santai di rumah. Beberapa bulan terakhir ini saya merasa sibukkkkk sekali sampai kurang waktu bersama anak-anak. Banyu juga barusan masuk SD awal April ini, jadi mungkin ini kesempatan untuk ngobrol banyak sambil menghilangkan lelahnya setiap hari harus bangun pagi dan terburu-buru kesana kemari seperti angin puting beliung, hehehhee...

Happy GW semua!

Apr 26, 2012

SD di Jepang: Banyu Masuk SD

Di gerbang sekolah
Awal bulan ini, tepatnya tanggal 5 April 2012 saya dan suami saya menghadiri Upacara Penerimaan Murid Baru di sekolah Banyu yang terletak di dekat rumah kami, yaitu SD T. Karena acara akan berlangsung pada pukul 10, maka setengah jam sebelumnya kami sudah harus registrasi di depan pintu masuk. 

Banyu hari itu harus membawa tas sekolah, yang disebut randoseru, untuk pertama kalinya agar bisa membawa pulang buku-buku pelajaran yang dibagikan setelah upacara penerimaan murid baru selesai. Sekedar informasi, randoseru ini karena terbuat dari kulit yang teringan beratnya mencapai 900 gram alias hampir satu kilo. Jadi bisa dibayangkan bila sudah diisi dengan buku-buku dan peralatan lain beratnya mungkin lebih berat daripada tas saya ketika bepergian, heheheh...

Inilah randoseru si tas sekolah yang lumayan berat itu 
Di Jepang, dalam upacara-upacara resmi seperti ini biasanya anak-anak juga dibiasakan mengenakan pakaian yang resmi. Anak laki-laki biasanya memakai setelah jas dengan celana kain selutut dan mengenakan dasi. Sedangkan anak perempuan biasanya mengenakan rok dipadu dengan blazer dan dipadu dengan semacam dasi kupu-kupu kecil atau korsase bunga yang disematkan di blazer mereka (ketika upacara kelulusan TK pun pakaian mereka disemati korsase besar di bagian dadanya). Seneng deh melihat anak-anak kecil tampil rapi dan bersih pada hari itu. Banyu sendiri hari itu mengenakan rok terusan kotak-kotak dipadu dengan blazer putih lengkap dengan dasi kupu-kupu kecilnya. Mengenakan sepatu resmi berwarna pink, hari itu ia semangat menggendong randoseru nya jalan kaki ke sekolah. Oh ya, sekolah disini tidak boleh diantar naik motor apalagi mobil, sepeda juga gak boleh karena mereka harus berangkat bersama-sama dari meeting point yang sudah ditentukan.

Karena hari itu adalah upacara penerimaan siswa baru, maka kami orang tuapun diundang untuk menghadirinya. Begitu sampai di gerbang sekolah, kami disambut dengan tulisan besar berbunyi  ”Nyugakushiki” artinya Upacara Penerimaan Murid Baru. Di halaman sekolah ada 2 buah meja tempat kami melakukan registrasi. Setelah selesai melakukan registrasi, kami masuk ke genkan, yaitu pintu masuk dimana berjejer rak-rak sepatu. Ya, memang sekolah disini tidak memperkenankan siapa pun, termasuk anak-anak dan pengunjung untuk memakai sepatu yang dipakai untuk datang dari luar untuk dikenakan di dalam sekolah. Sepatu anak-anak kelas 1 sampai dengan kelas 6 harus dimasukkan ke dalam loker yang sudah bertuliskan masing-masing nama mereka, setelah itu mereka harus berganti sepatu khusus yang disebut "Uwabaki" yang khusus dikenakan di dalam lingkungan sekolah. Uwabaki untuk Banyu sudah ditentukan warnanya. Putih dengan kombinasi kuning untuk kegiatan biasa di dalam sekolah, dan putih dengan kombinasi biru tua untuk kegiatan di gedung olah raga. Uwabaki ini biasanya dibawa pulang setiap hari jumat untuk dicuci dan dibawa kembali pada hari seninnya untuk dipakai selama seminggu.

Banyu dengan uwabaki putih kuning dan pakaian resminya ketika memasuki aula 
Setelah kami berganti alas kaki, kami memasuki kelas Banyu. Banyu segera mencari loker untuk memasukkan randoseru dan segera mencari tempat duduknya. Anak-anak duduk sesuai urutan absen berdasarkan huruf alfabet nama pertama. Banyu duduk nomor 3 dari depan, bersebelahan dengan anak laki-laki bernama Toshio yang tampak menggemaskan, hehehhe... Kami para orang tua berdiri di belakang kelas dan sibuk mengabadikan momen pertama duduk di bangku SD dengan kamera maupun video. Bagi sebagian besar orang Jepang, momen upacara penerimaan murid baru ini adalah salah satu  momen terpenting dalam kehidupan si anak dan event di dalam keluarga itu. Sesibuk apa pun orang tua, pasti akan menyempatkan diri menghadiri dan habis-habisan mendokumentasikan acara ini.  Masuk SD dianggap sebagai salah satu turning point dari anak kecil menjadi seorang anak yang bisa bertanggung jawab atas dirinya sendiri dan masuk ke dalam lingkungan masyarakat secara nyata. Berbeda dengan di TK, si anak sudah akan bertanggung jawab atas perilakunya di sekolah, memiliki hak dan kewajiban yang harus dipenuhi. Tingkah laku si anak akan dinilai sebagai cerminanan bagaimana ia dididik di rumah oleh orang tuanya selama ini. Oleh karena itu, masuk SD menjadi suatu semacam perayaan penting dalam keluarga.

Loker di bagian belakang kelas adalah tempat meletakkan randoseru
Setelah selesai mengantar anak ke dalam kelas, kami para orang tua dipersilakan memasuki gedung olah raga sekaligus aula yang sudah disulap menjadi tempat upacara. Kami duduk disitu, sambil menunggu dengan cemas kapan anak kami akan memasuki aula dan apakah mereka bisa bersikap baik selama acara. Anak-anak kelas 1 masuk ke aula bergandengan tangan setelah pembawa acara memanggil mereka berdasarkan kelasnya, lalu duduk di bagian depan aula. Acara hari itu tidak banyak, singkat padat, tidak bertele-tele dan sudah diatur dengan rapi dan teroganisir dengan baik. Setelah kepala sekolah memberi sambutan (yang ditujukan ke anak-anak baru dan sedikit ke wali murid), wakil murid (kakak kelas) memberi sambutan yang ditujukan kepada adik kelas barunya. Yang mengejutkan saya, kalau di Indonesia kata sambutan sepenting ini biasanya pasti diberikan oleh anak kelas 5 atau 6 karena mereka yang terbesar, di sekolah Banyu yang mewakili para murid adalah anak dari kelas 2 SD. Waaaah hebattt!!! Betapa mereka sudah dilatih untuk percaya diri berbicara di depan ratusan orang dewasa dan anak-anak. Meskipun seandainya sambutan itu dituliskan guru atau orang tuanya, saya rasa untuk berdiri di depan ratusan orang tanpa grogi memerlukan bakat dan kemampuan tersendiri!

Aula tempat upacara
Upacara hari itu diakhiri dengan sesi foto bersama masing-masing kelas dengan wali murid, murid baru, kepala sekolah dan wali kelas. Saat giliran foto pun, semua langsung otomatis antri dan berbaris rapi. Tidak ada dorong-dorongan atau kryukuan tanpa antri untuk naik ke stage tempat kami akan difoto. Lucunya saat kami akan difoto saya dengan salah satu guru berteriak kepada anak-anak kami yang di depan "Ayo tangannya yang rapi, jangan acungkan 2 jari tanda victory" Dan saya tertawa dalam hati membayangkan siapa ya yang ditegur tadi. Setelah foto itu jadi, ternyata oh ternyata yang mengacungkan 2 jari tadi adalah Banyu Sakuntala!! Hahhahaha

Setelah acara di aula selesai, kami kembali ke kelas masing-masing. Disitulah pertama kali secara resmi wali kelas berkenalan dengan murid-muridnya. Nama si anak dipanggil satu persatu lalu mereka bersalaman. Banyu yang tidak biasa dipanggil dengan nama depannya "Ernesta" tenang-tenang saja ketika si ibu guru memanggil namanya, hahhahaha... Saat itu, di meja tulis anak-anak sudah terdapat 7 buah buku pelajaran (yang tentu saja GRATIS) Matematika, Bahasa Jepang, Pendidikan Moral, dan Musik. Buku itu yang akan dipakai selama 1 tahun. Oh ya selain gratis buku pelajaran, tentu saja kami tidak dipungut biaya apapun untuk menyekolahkan anak disini. Tidak ada uang gedung, uang sekolah perbulan, atau uang sumbangan yang lain. Setiap bulan saya hanya dipungut sekitar 4000 yen untuk makan siang anak di sekolah selama satu bulan. Jam pelajaran anak kelas satu adalah dari pukul 8.25 sampai 14.35, jadi setiap hari mereka makan siang di sekolah yang dalam bahasa Jepang disebut "kyushoku." Khusus tentang makan siang di sekolah ini akan saya tulis di lain waktu ya. Anak-anak yang lebih besar, mulai kelas 3 harus belajar sampai jam 15.35 di sekolah.

Diajak kenalan ibu guru masih aja ngelirik kamera Banyu hahahha...
Selain buku pelajaran kami juga diberi Buku Penghubung. Agak berbeda dengan buku penghubung di TK yang pernah saya tulis disini, buku penghubung ini lebih simple dan tidak perlu ditulis setiap hari. Hanya apabila wali murid ingin berkomunikasi dengan wali kelas dan sebaliknya. Buku penghubung itu dimasukkan ke dalam satu dompet plastik besar yang berfungsi sebagai kantongnya. Semua PR anak, edaran atau surat-surat apapun dari sekolah (wali kelas) akan dimasukkan ke dalam kantong itu, dan wali murid harus memeriksanya setiap hari. Cukup praktis menurut saya!

新しい一年生、頑張れ!!
Setelah selesai, kami pun pulang, tak lupa kembali berfoto-foto di depan gerbang bersama teman-teman Banyu dan masing-masing orang tuanya. Teman Banyu dari TK yang sama yang masuk ke SD ini ada 3 orang, Kokona, Rui, dan Yukito. Seperti yang pernah saya tulis disini, SD di Jepang memang dirayonisasi dengan ketat. Anak harus masuk ke SD sesuai dengan tempat tinggalnya (kecuali masuk SD swasta). Hal ini salah satunya untuk mengurangi kemacetan juga, agar tidak ada orang tua yang sibuk mengantar anaknya dari utara ke selatan, barat ke timur dan sebagainya atas nama sekolah favorit. Semua SD (dan juga SMP) sudah tidak mempunyai batasan-batasan seperti "sekolah favorit" atau "memiliki kelas unggulan" dan sebagainya. SD sampai SMP adalah wajib belajar, dan ORANG TUA lah yang wajib menyekolahkan anak. Sehingga tidak ada anak yang tidak bisa sekolah dengan alasan biaya dan sebagainya. Sekolah juga menerapkan standar yang sama, sehingga tidak ada sekolah yang lebih unggul dari yang lainnya. 

Kapan ya, Indonesia bisa sedikit saja meniru hal baik seperti ini.... Mudah-mudahan suatu saat nanti kata Wajib Belajar di Indonesia bukan hanya sekedar slogan tetapi benar-benar bisa membuat anak-anak wajib untuk belajar (sambil bermain tentunya hehehe) tanpa terbebani biaya dan sebagainya. Semoga!

Kangen Papa


Beberapa hari ini rasanya kangen banget sama papa. Gak tau kenapa, wajah papa kebayang-bayang terus, gak siang gak malam. Dan puncaknya hari ini, rasanya kangen ingin memeluk papa.

Banyak penyesalan karena belum bisa membalas budi kepada papa, tapi aku iklas papa, aku iklas...
Aku tau papa sudah senang disana.

Sampai jumpa nanti, entah kapan nanti itu terwujud, tapi aku yakin pasti kami akan berkumpul kembali.
Peluk eraaaaat papa!!!

Apr 3, 2012

Graduation Day

Banyu dan sertifikat kelulusannya

Minggu lalu, tepatnya tanggal 23 Maret 2012, TK tempat Banyu sekolah selama 2 tahun ini mengadakan upacara pelepasan alias wisuda siswa yang berumur 6 tahun dan akan masuk SD pada bulan April ini. Mendengar kata kelulusan atau wisuda, jangan membayangkan wisuda-wisudaan seperti di TK Indonesia, anak didandani menor lengkap dengan toga-togaan seperti yang sering saya lihat di majalah-majalah. Upacara pelepasan siswa ini berlangsung sangat sederhana tetapi penuuuuh dengan makna yang membuat kami para orang tua (kebanyakan ibu-ibu karena ayah harus bekerja sebab acara ini berlangsung pada hari kerja) sangat terharu dan tidak sedikit yang meneteskan air mata.

Happy Graduation Day

Ruang kelas Banyu diubah menjadi ruang upacara dengan sedikit sentuhan artistik dari kain merah bertuliskan 卒園おめでとう yang artinya "Happy Graduation Day". Selain itu, di kiri kanan juga dipasang pot berjumlah 16, sesuai dengan jumlah anak yang akan lulus, berisi bunga tulip yang baru akan mekar. Ya, memang musim semi, selain bunga sakura, identik dengan bunga tulip. Bunga-bunga tulip itu nantinya akan diberikan sebagai hadiah kepada para murid sebagai kenang-kenangan kelulusan mereka. Hari itu semua murid mulai dari kelas terkecil yaitu kelas anak usia di bawah 1 tahun sampai kelas usia 5 tahun berkumpul di ruangan itu. Mereka duduk di lantai di sisi kiri dan kanan ditemani oleh masing-masing wali kelasnya. 

Tulip yang indah jadi hadiah bagi kami :)

Anak-anak tetap berpakaian biasa, bukan pakaian formal dalam acara ini agar merasa nyaman

Setelah waktu menunjukkan pukul 9.30 tepat, 16 orang anak yang akan lulus masuk ke ruangan satu persatu menuju ke kursi yang sudah diatur di tengah ruangan. Kursi itu terdiri dari 2 baris dan masing-masing sudah ditulis nama mereka. Baris depan untuk duduk anak-anak, dan kursi di baris belakang untuk duduk wali murid/ibu mereka. Banyu kebetulan dapat kursi persis di tengah. Setelah kepala sekolah memberi sedikit sambutan, acara dilanjutkan dengan penyerahan sertifikat kelulusan. Nama masing-masing anak dipanggil, lalu kepala sekolah memberikan sertifikat itu sambil berkata 「2年間活発で遊び、のびのびで育ったことを証します」 yang artinya kira-kira "Saya menyatakan bahwa Banyu selama 2 tahun sudah bermain dengan aktif dan berkembang dengan pesat"



Setelah itu, anak-anak dipanggil lagi namanya dan mereka ditanya apa yang akan dilakukan di SD nanti.  Jawabannya bermacam-macam dan lumayan bikin tersenyum. Ada yang serius menjawab mau belajar bahasa Inggris, matematika, bahkan bahasa Jepang. Lalu ada juga yang menjawab mau cari teman yang banyak dan membuat bola yang besar dari tanah hahahhaa..... Oh ya, sebelumnya, kami para wali murid yang duduk di belakang mereka dipersilahkan bergiliran memberi sepatah kata kepada masing-masing anak. Kebanyakan sih hanya mengucapkan selamat dan memberi dorongan kepada anak, tapi entah mengapa momen itu rasanya mengharukan sekali. Ibu Ishikawa yang duduk di sebelah saya sampai nangis tersedu-sedu membuat semua jadi terharu. Saya pun berusaha berbicara setenang dan sependek mungkin menghindari kemungkinan menangis karena rasanya air mata sudah tercekat sampai di tenggorokan. Saya masih ingat, waktu itu saya berkata 「バニュ、卒園おめでとう!保育園は楽しかったけど、小学校でママと一緒に楽しく過ごしましょうね。」"Banyu, selamat ya sudah lulus. Waktu di TK menyenangkan kan, nanti kehidupan di SD pun kita lewati dengan menyenangkan ya."

Setelah itu, acara dilanjutkan dengan penyerahan hadiah dari anak-anak yang akan lulus untuk adik-adik kelas mereka. Hadiahnya berupa 2 buah bangku buatan sendiri. Menariknya di sisi kiri dan kanan bangku itu, terdapat 16 lukisan tangan dari cat minyak hasil karya anak-anak lengkap dengan namanya! Personal sekali kan hadiahnya. Saya terkesan sekali dengan hadiah ini, bermanfaat, bisa langsung digunakan, dan penuh dengan kenangan. Selain itu, para siswa yang akan lulus juga menerima berbagai macam hadiah (tentu saja semua hand made) dari adik-adik kelasnya.

2 buah bangku buatan sendiri dengan lukisan tangan di masing-m


Setelah menyanyikan lagu berjudul "belive" yang liriknya sangat mengharukan, karena sudah tiba waktunya makan siang, kami lalu pindah ke lunch room. Hari itu menunya adalah kare rice khas Jepang. Anak-anak seperti biasa membantu guru-gurunya menyiapkan meja dan peralatan makan. Setelah makan, kami diajak main game, yaitu mencari hadiah dari anak untuk masing-masing orang tua yang sudah disembunyikan di sekitar ruang itu. Lagi-lagi jangan membayangkan hadiah yang mewah ya. Hadiah itu berupa surat yang ditulis di kertas karton tipis dari anak-anak kepada ibunya masing-masing, yang dibalut dengan pita warna warni. Saya meneteskan air mata membacanya, kira-kira begini bunyi terjemahan surat itu, "Untuk mama. Mama, Banyu sayang sekali sama mama, terima kasih ya selalu ada untuk Banyu. Terima kasih mama sudah bekerja untuk Banyu." Bayangkaaaaan..... Anak yang rasanya baru saja saya lahirkan kemarin, sudah bisa menulis surat sendiri, yang isinya mengucapkan terima kasih kepada saya!!! Oooh, ibu mana sih yang gak terharu. Hehehhe....

Surat dari Banyu untuk saya. Mengharukan!

Acara hari itu diakhiri dengan pesta kecil yang dipersembahkan oleh para wali murid kepada para guru dan wali kelas. Hanya pesta sederhana dengan makanan kecil dan beberapa jus, tapi sangat berkesan. Para guru duduk di depan, lalu anak2 membawa masing-masing bunga mawar untuk diserahkan kepada wali kelasnya. Wali kelas Banyu, yaitu Yamaguchi Yukiko sensei dan Kawauchi Yoshiaki sensei, menangis tersedu-sedu ketika mereka diminta memberikan sambutan. Waaah kami jadi ikut terharu. Pulangnya, anak-anak menerima berbagai hadiah, tentu saja hampir semua hand made kecuali pianika dan kue-kue serta alat tulis. Oh ya, Banyu dan teman-temannya juga menerima satu album sederhana buatan sendiri yang berisi foto semua teman sejak masuk TK sampai lulus beserta pesan-pesan dari 7 orang wali kelas kelas laut, gunung, dan langit. Waaaah senangnya....

Wali kelas Banyu menangis terharu menerima album berisi foto-foto dan kesan dari para murid.
Lihat pakaian guru yang sederhana dan fungsional meski dalam acara upacara kelulusan :)

Satu hal yang saya petik dari acara ini adalah kesederhanaan tetapi penuh makna. Semua rangkaian acara, mulai dari pakaian para guru yang tetap dengan kostum mengajar (kaos lengan pendek dan celemek) sampai hadiah-hadiah yang sangat personal buatan tangan. Selain itu, sebelum hari H kami pun sudah diwanti-wanti agar memakaikan pakaian yang mudah untuk bergerak agar anak-anak merasa nyaman. Untunglah kami tidak perlu memakai formal dress seperti yang diharuskan di beberapa TK lain. Saya bersyukur karena Banyu (dan juga Wisanggeni) berada di sekolah yang sesuai dengan keinginan saya, sederhana, tanpa basa basi, apa adanya, dan mementingkan kenyamanan anak.

Hello again!


Duuuh lamanyaaaa gak nulis, persis 3 bulan gak pernah menyentuh blog ini lagi, sakiiing sibuknya.
Mulai desember sampai februari sibukkk setengah mati dengan tulisan di jurnal, dan kerjaan lain. Februari dan puncaknya bulan maret sibuk dengan pekerjaan yang gak ada habisnya. Bersyukur sih pekerjaan datang bertubi-tubi, cuman kadang heran aja semuanya datang bersamaan, breeekkk seperti badai puting beliung. Hehhehe...

Dan akhirnya datanglah bulan April. Ya bulan April!!! Gila deh, perasaan baru aja tahun baru, eeeeh udah bulan april aja. Dan baru tersadar, sudah begitu banyak hal yang terlewatkan untuk ditulis selama 3 bulan ini.

Mulai dari hebohnya turun salju yang lebat banget tahun ini, perpisahan dengan teman2 yang sudah setia menemani selama 2 tahun, ngajar mata pelajaran Cultural Understanding di beberapa SD, peringatan satu tahun gempa dan tsunami, kelulusan Banyu, jalan-jalan ke hot spring di Hakone, daaaaaan sebagainya. Sayang banget kan dilewatkan. Pasti nanti pelan-pelan akan saya tulis lagi satu persatu, mumpung masih inget samar-samar, hahhahaha...

Minggu ini juga penuh dengan acara dan minggu depan saya sudah harus kembali kuliah lagi. Aduuuuuh rasanya belum libur kok udah mau masuk kuliah yaaa..... Heheheh...

Hari ini, selain pekerjaan rutin, malam hari saya menghadiri acara ulang tahun ke 70 professor pembimbing sekaligus promotor saya. Kami makan-makan di restoran Indonesia Jembatan Merah yang ada di Shinjuku. Senaaaang sekali. Selain makanannya, saya senang sekali karena acara ulang tahun ini dihadiri oleh teman-teman, adik kelas, dan mantan adik-adik kelas yang sudah lulus. Teman-teman lamaaaa ketika saya menempuh S2 lebih dari 10 tahun yang lalu. Waaah senangnyaaaa..... Bayangkan, bertemu lagi dengan teman-teman yang sudah hampir 8 tahun gak ketemu. Waduuuh rasanya tadi serasa kembali usia 20 an hahahhaha.... Pokoknya hari ini judulnya senang, senang, dan senaaaang sekali!

Selamat ulang tahun Prof. Tozu
Senangnyaaaaa bertemu dengan mantan adik kelas, Fujiwara Yusuke (tengah) musisi sekaligus drummer
Hari rabu ada guidance dan KRS di kampus, kamis ada 入学式, yaitu upacara penerimaan siswa baru di SD. Ya, anak saya yang pertama, Banyu Sakuntala, akan masuk SD kelas satu mulai kamis minggu ini. Hari ini pun Banyu sudah gak lagi pergi ke TK nya, tetapi karena SD juga belum masuk, ia saya titipkan di tempat penitipan siswa SD yang terletak di dalam sekolah karena saya harus pergi. Tempat ini dalam bahasa Jepang disebut 児童館. Saya bersyukur, setelah melalui tahap seleksi berkas dan wawancara tahun lalu, Banyu bisa diterima di tempat ini. Lumayan keras juga persaingannya agar bisa diterima di tempat penitipan. Yang jelas, kedua orang tua harus bekerja/sekolah. Tempat penitipan ini menerima penitipan siswa SD kelas 1 sampai kelas 3. Di hari-hari biasa, anak-anak yang sudah terdaftar datang ke sana setelah selesai pelajaran terakhir, biasanya sekitar jam 2 siang sampai jam 6. Bila hari sabtu, atau hari liburan musim semi (juga musim panas) seperti sekarang, anak-anak boleh datang mulai pagi.

Anak-anak yang datang pagi, harus membawa bekal makan siang untuk dimakan disana. Jadi ini berbeda dengan di TK yang memiliki dapur dan tim masak sehingga ortu gak perlu repot-repot membuat bekal. Sama seperti di TK, anak-anak di tempat penitipan ini juga memiliki loker sendiri, yang tentu saja sudah ditempeli dengan nama mereka. Di loker itu, mereka bisa menaruh jaket, ransel, dan kantong yang berisi pakaian ganti, serta payung lipat. Sama seperti di TK atau institusi lain di Jepang, tempat penitipan ini sangat efisien sekali. Setiap anak selain memiliki loker pakaian, juga memiliki loker sepatu yang terletak di pintu masuk. Semua loker dan peralatan anak bertulis nama mereka, dan masing-masing dibedakan menurut warna. Anak kelas 1 merah, kelas 2 kuning, dan kelas 3 hijau sehingga mudah dikenali. Begitu datang, anak wajib langsung mencuci tangan dan berkumur. Setelah itu, mengambil name plate bertuliskan nama mereka lalu menyematkannya di pakaian. Masing-masing anak juga memiliki 1 keranjang khusus kecil tempat mereka menaruh buku penghubung. Seperti biasa, saya juga masih harus mengisi buku penguhubung itu setiap hari sebelum berangkat.

Di tempat penitipan, anak boleh bermain, membaca (selain komik), belajar, atau melakukan apa saja di bawah pengawasan para penjaga (yang juga dipanggil sensei, seperti guru di sekolah) yang berjumlah 4 orang. Saya lihat tadi ada beberapa teman Banyu yang berasal dari TK yang sama, sehingga saya tidak kuatir dia kesepian hehehhee....  Berhubung dilarang mengambil foto di dalam ruang penitipan, jadi saya hanya bisa mengambil foto bangunan dari luar. 

Hari sabtu ini, di TK Wisanggeni juga akan diadakan 進級・入園式 yaitu upacara penerimaan siswa baru sekaligus kenaikan kelas siswa lama. Hari itu akan diumumkan kegiatan selama setahun ke depan, dan yang paling penting adalah pengumuman Wisang akan masuk ke kelas apa dan siapa wali kelasnya. Wow Tanoshimi!!!

Wah, sudah ngantuuuuk, padahal pekerjaan terjemahan masih menunggu untuk disentuh. Hehhehe....
Besok juga akan ada kunjungan teman lama ke rumah, waaah senangnya. 
Saya (lagi-lagi) janji deh, akan mulai rajin menulis lagi, kan udah janji ke Banyu, tulisan ini untuk Banyu dan Wisang, agar kalau mereka besar nanti, mereka punya sesuatu untuk dikenang, hehehhe....

Sagamihara, 2 April 2012