May 28, 2013

Kencan Kecil Dengan Banyu





Hari senin tanggal 27 Mei yang lalu, Banyu libur. Libur ini adalah libur pengganti hari sabtu lalu yang dipakai untuk perlombaan olahraga antar kelas di sekolahnya. Karena kebetulan hari itu saya juga tidak ada kegiatan, setelah menyelesaikan segala pekerjaan rumah, kami bersepeda menuju stasiun terdekat dari rumah kami. Tujuannya kemana lagi kalau bukan ke toko es krim langganan kami. Sudah lama Banyu minta ditraktir makan es krim di sana. Maka semangatlah kami mengayuh sepeda kami masing-masing menuju ke toko itu. 

Saya sengaja tidak mengajak Wisang supaya bisa ngobrol berdua saja dengan anak perempuan saya ini, hehehhe... Saya sudah sering pergi ke toko es krim ini, baik sendiri maupun bersama anak-anak, tetapi baru kali ini saya memperhatikan interior bagian dalamnya yang baru saja direnovasi. Menurut saya ruang dalam toko ini sangat ramah bagi orang tua yang mengajak anak-anak.

Anak-anak bisa membaca atau bermain di sini
Selain kursi dan meja kecil biasa, di situ juga disediakan meja dengan pojok yang dipenuhi buku cerita dan mainan-mainan sederhana seperti blok, puzzle dan lain-lain. Selain itu di atas meja juga terdapat televisi layar datar berukuran besar yang selalu menayangkan film-film disney yang membuat orang betah berlama-lama duduk di sana. Sehingga meskipun kami sudah selesai makan, Banyu masih asyik membaca buku dan saya pun bisa membaca buku yang sengaja saya bawa dari rumah.

Oh ya, ngomong-ngomong Banyu ke sana naik sepeda barunya lho, hehehhe....

Sepedaku baru lhoo....

SD di Jepang: Menyambut Murid Baru

Tahun ajaran baru di Jepang dimulai pada bulan April setiap tahun. Pada bulan April itu karyawan/wati baru dan siswa baru serentak masuk ke lingkungan baru mereka masing-masing. Di dalam kereta saya sering sekali menjumpai karyawan baru menuju ke tempat kerjanya. Relatif tidak sulit membedakan mana karyawan baru dan mana yang lama. Di sini seperti ada aturan tidak tertulis bahwa karyawan baru mengenakan setelan jas/blazer hitam yang tampak baru dengan kemeja putih di dalamnya. Bukan hanya pakaian saja, bahkan sampai tas dan sepatu pun berbentuk sama. Gaya busana seperti ini sudah mulai dipakai sejak mereka masih dalam proses mencari pekerjaan yang biasa dilakukan beberapa bulan sebelumnya.

Para siswa/i baru pun pada bulan April tampil tidak kalah "baru" daripada para karyawan tersebut. Yang paling menyolok adalah ransel-ransel mengkilat seperti ini yang tentu saja masih bau toko hehehehe.... Setelah upacara penerimaan siswa baru selesai, mulai minggu berikutnya, para murid baru mulai belajar seperti biasa. Para murid kelas satu ini masing-masing mempunyai partner yang sudah ditunjuk oleh wali kelas mereka. Partner yang merupakan murid kelas 6 ini bertugas membantu agar para murid baru itu lekas terbiasa dengan kehidupan di SD. Waktu Banyu duduk di kelas 1 dulu, dia sering bercerita bahwa setiap pagi sebelum pelajaran dimulai, partner kelas 6 nya selalu datang ke kelas, untuk sekedar mengajak ngobrol, melipat origami, ataupun menyanyi bersama. Selain itu, pada saat istirahat pergantian jam pelajaran, partnernya juga selalu datang untuk kembali mengajak bermain. Kadang-kadang Banyu menerima surat yang ditulis oleh partnernya itu, di hari natal, hari anak perempuan atau hari-hari perayaan lain, si partner juga selalu mengirim kartu buatan sendiri bertuliskan kata-kata yang kadang-kadang membuat saya terharu. Hal itu berlangsung terus selama 1 tahun, dan tentu saja selama itu pula Banyu juga selalu menulis surat dan membuat kartu untuk partnernya tersebut.


Beberapa kartu dari murid kelas 2 dan kelas 6 yang diterima Banyu tahun lalu

Selain partner dari kelas 6, para murid baru juga memiliki partner dari kelas 2 yang bertugas memperkenalkan lingkungan sekolah dan sebagainya. Partner dari kelas 2 ini pun sering datang untuk bermain bersama dan mengirim berbagai kartu buatannya sendiri untuk Banyu. Waktu Banyu naik ke kelas 2, ia pun memiliki partner dari kelas 1 yang sudah ditetapkan oleh wali kelasnya. Suatu hari di minggu ketiga bulan April, tepatnya pada tanggal 19, ia dan semua teman-temannya yang duduk di kelas 2 bertugas memperkenalkan lingkungan sekolah kepada masing-masing partner mereka dari kelas satu. Selain sudah menunjuk dan menentukan setiap pasangan mereka, wali kelas juga menetapkan rute yang harus dilewati. Bahkan saya dengar mereka sudah berlatih, semacam gladi resik (tanpa anak kelas 1) untuk acara hari itu.


Kertas panduan bagi anak kelas 2 yang berisi nama mereka,
nama partner kelas 1 dan rute yang harus dilewati

Ketika hari yang ditetapkan tiba, para murid kelas 2 datang ke ruang kelas 1, mengucapkan salam ke wali kelas 1 lalu menjemput partner kelas 1 nya. Setelah itu mereka berdua berjalan keluar menuju tempat yang sudah ditetapkan seperti ruang UKS, ruang komputer, ruang kepala sekolah, ruang dapur, perpustakaan dan sebagainya. Sambil berjalan bergandengan tangan ke sana, murid kelas 2 menjelaskan tempat apa yang mereka kunjungi dengan suara rendah agar tidak mengganggu kegiatan belajar mengajar di kelas lain.

Selain untuk membantu agar murid baru cepat beradaptasi dengan lingkungan sekolah, kegiatan ini juga dimaksudkan untuk memberi tanggung jawab kepada murid yang lebih besar kepada murid yang lebih kecil. Para murid yang baru saja naik kelas dua diberi kesadaran bahwa kini mereka sudah jadi kakak-kakak yang bertanggung jawab terhadap adik-adik di kelas 1. Sedangkan murid kelas 6 semakin menyadari bahwa sebagai murid di kelas yang paling tinggi, mereka bertanggung jawab melindungi dan membuat adik-adik kelasnya nyaman dan secepat mungkin beradaptasi dengan lingkungan baru.

Suatu program dari murid untuk murid itu sendiri!






May 23, 2013

Ikan Mas dari Ryogo






Wisanggeni (dan saya) punya hobi baru. Kami sekarang punya dua ekor ikan mas yang kami letakkan di atas rak persis di depan pintu masuk rumah kami. Minggu lalu ketika saya dan Wisang mampir ke rumah K san, ibunya tiba-tiba menawari Wisang apa mau memelihara dua ekor ikan mas. Putra tertua ibu K yaitu Ryogo yang sekarang sudah duduk di SD kelas satu memang dulu akrab sekali dengan Wisang ketika masih sama-sama di TK penitipan. 

Tadinya saya ragu-ragu karena kami sudah beberapa kali memelihara ikan mas setiap musim panas tetapi selalu mati. Setiap musim panas di mana-mana selalu diadakan festival tari Bon (Bon Odori), tidak terkecuali di daerah dekat kami tinggal. Festival ini biasanya diadakan di taman, lapangan atau halaman jinja. Selain mengadakan tari-tarian, biasanya di festival itu banyak orang jualan, mulai dari mi goreng, sate ayam sampai mainan anak-anak. Salah satu stand favorite anak-anak adalah stand kingyo sukui (menyendok ikan mas). Dengan membayar 200 yen anak-anak bisa menyendok ikan mas sebanyak-banyaknya menggunakan semacam jaring yang diberikan oleh penjaga stand. Yang menarik adalah jaring ini bukan jaring biasa, tetapi terbuat dari kertas sehingga gampang robek di dalam air kalau tidak pintar-pintar menggunakannya. Kalau sudah robek artinya permainan sudah selesai, kalau menginginkan jaring yang baru harus membayar 200 yen lagi. Anak yang pintar bisa dapat sampai 10 ekor ikan mas tanpa merobekkan jaring. 

Kingyo Sukui
Lihat jaring kami sudah robek! Hahhahaa


Jadi setiap musim panas kami selalu menenteng beberapa ekor ikan untuk dipelihara di rumah. Biasanya ikan itu akan mati dalam 2 atau 3 hari, mungkin karena kami tidak serius memelihara ikan itu, jadi kali ini pun saya pesimis ketika ibu K menawarkan ikannya untuk kami bawa. Tetapi Wisang tampaknya ingin sekali menerima ikan itu, jadi saya menerimanya disertai sedikit makanan ikan untuk dibawa pulang. Ibu K berpesan agar  ketika mengganti airnya, jangan langsung menggunakan air ledeng tetapi menggunakan air ledeng yang minimal sudah didiamkan semalam atau lebih.

Tentengan berisi ikan mas dari festival musim panas

Karena tidak yakin ikan itu akan hidup lama, awalnya saya hanya memindah ikan itu ke dalam ember dan saya taruh di luar rumah kami. Setiap hari saya dan Wisang mengganti air dan memberi makan ikan itu. Hampir dua minggu berlalu, mereka tidak mati bahkan semakin besar. Waaaah senangnya Wisang! Karena kasihan, saya lalu mengusulkan kepada Wisang untuk memindah ikan itu ke dalam kotak untuk memelihara serangga yang biasa dipakai untuk memelihara berbagai macam serangga kesukaan Wisang. Kami lalu memindahkan ikan-ikan itu dan memasukkan berbagai macam kelereng supaya rumah baru ikan itu tampak sedikit ramai. Tampaknya ikan-ikan itu pun senang berada di rumah barunya. Setiap hari saya lihat mereka berenang ke sana kemari dengan lincahnya. 

Tadi pagi saya bertemu dengan ibu K ketika mengantar Wisang. "Bagaimana ikannya? Sudah mati semua?" Hahhahaa saya tertawa mendengar pertanyaannya. Ketika ia mendengar bahwa dua ekor ikan yang kami terima waktu itu masih lincah-lincah saja, dengan herannya ia lalu menambahkan "Dari 10 ikan yang kami tangkap di sungai waktu itu, sekarang hanya tinggal satu ekor yang hidup, jadi saya kira ikannya Wisang juga sudah mati!" Hahahhaa.... 

Wisang dan saya sekarang punya kegiatan baru, setiap pagi kami mengganti air dan memberi makan ikan-ikan itu. Kadang-kadang Wisang mengajak bicara ikan-ikan itu kalau mau pergi "Sudah ya ikan Wisang pergi dulu." Hahahah.... 

Tadi pagi kami sibuk mencari dua nama buat ikan-ikan itu, apa ya nama yang lucu.....

Wisanggeni potong rambut


Wisang waktu dipotong rambutnya

Pertengahan bulan April lalu sampai sekitar awal bulan Mei, kami pulang ke Jogja. Sebelum berangkat saya sudah berjanji kepada Wisang untuk memotong rambutnya di Jogja. Rambut Wisang memang sudah sekitar satu setengah tahun tidak pernah saya potong, sehingga memanjang sampai ke pundaknya aka gondrong. Saya suka sekali melihat Wisang gondrong, tidak ada alasan khusus sih, cuma lucu aja hehehhe... Kebetulan di sini tidak ada peraturan anak laki-laki harus berambut pendek, jadi ini kali kedua saya sengaja memanjangkan rambut Wisang. Sayangnya karena Wisang berwajah mungil, setiap dia gondrong hampir semua orang yang yang tidak mengenalnya, seperti mbak-mbak penjaga toko, atau mas-mas petugas taman hiburan selalu menyapa dia dengan panggilan "mbak" karena mengira Wisang seorang anak perempuan. Awalnya dia cuek, lama-lama dia risih juga tampaknya dengan panggilan itu. Dia selalu bilang kepada lawan bicara yang memanggilnya "mbak" itu dengan kalimat "Ore wa otoko dayo!" yang artinya "Aku ini laki-laki lho" dan terperangahlah si lawan bicara mendapati Wisang ternyata bukan anak perempuan seperti yang mereka sangka. Hal ini berlaku di Jepang maupun di Indonesia. Meskipun dia sudah memakai pakaian laki-laki, kaos ultraman dan sebagainya, tidak jarang mereka tetap mengira Wisang anak perempuan. 

Banyu, Wisanggeni, Papa Prima sebelum potong rambut

Akhirnya mungkin karena sebal, lama-lama dia minta potong rambut dan saya janjikan nanti kita akan potong rambut di Jogja ya. Beberapa hari sebelum kembali ke Tokyo, kami mengajak Wisang ke pangkas rambut yang ada di sekitar jalan Gunung Ketur. Karena penuh, kami harus menunggu sebentar, ketika tiba gilirannya, mas-mas kapster bertanya kepada saya "Siapa yang mau potong bu?" Ketika saya menunjuk Wisang yang duduk di sebelah saya, dengan wajah terkejut dia berkata "Haaa, perempuan???" Mungkin dia heran kenapa anak perempuan bukannya diajak potong ke salon tapi ke pangkas rambut khusus laki-laki. Saya bilang "Bukan mas, ini anak laki-laki kok," dan meledaklah tawa kami semua.


Keliatan bandelnya sekarang!

Wisang tampaknya sangat excited dipotong rambutnya, saya perhatikan ia lama-lama melihat kaca, memandangi perubahan wajahnya dari berambut gondrong berubah ke rambut cepak. Ketika sudah selesai dia tampak sedikit heran memandangi anak laki-laki yang ada di depan kaca, karena wajah manisnya berubah menjadi wajah seorang anak laki-laki yang (tampaknya) bandeeeeel, hehehehe... Sayalah yang paling sedih, karena saya suka sekali Wisang dengan rambut gondrongnya. Tapi gak apa-apa deh, kapan-kapan kita gondrongin lagi ya Wis!!

Sekolah di Jepang: Pak Bon

Kemarin waktu saya menjemput Wisanggeni ke sekolahnya, saya melihat para bapak ibu guru bercelemek sedang menyikat kamar mandi, menyedot ruang kelas dengan vacuum cleaner, menyapu halaman dan sebagainya. Sebetulnya ini pemandangan yang sudah sering saya lihat tapi entah mengapa pemandangan kemarin tiba-tiba mengingatkan saya pada para penjaga sekolah alias Pak Bon di sekolah-sekolah Indonesia. Di sekolah Indonesia biasanya tugas bersih-bersih yang menyeluruh dilakukan oleh penjaga sekolah, pak bon, staf cleaning service atau apapun namanya. Anak-anak mungkin dilibatkan untuk menjaga kebersihan sekolah dengan menyapu kelas setiap hari, tetapi tugas menyapu halaman, mengepel semua ruangan termasuk ruang olah raga pasti tidak dilakukan oleh guru-guru.

Karena kesibukan saya banyak yang dimulai siang sampai malam hari, saya jarang menjemput anak-anak. Tugas menjemput biasanya dilakukan suami saya, sebaliknya saya yg bertugas mengantar setiap pagi. Tetapi karena kemarin adalah jadwal kunjungan rutin guru ke rumah kami, saya sengaja meliburkan diri karena Wisang harus dijemput pukul 3 sore (biasanya Wisang dijemput suami saya pukul setengah enam sore). Kunjungan rutin ini biasanya dilakukan oleh dua orang wali kelas setahun sekali pada bulan Mei. Rupanya pukul 3 sore adalah waktu para guru menyapu dan mengepel ruang kelas, membersihkan toilet dan lain-lain.

Begitu saya tiba di pintu depan sekolah Wisang pukul 3 lewat sedikit, Wisang muncul dari dalam sambil  menggotong kursinya ke arah ruang makan. Rupanya mereka sedang bersiap-siap makan snack sore, dan Wisang bertanya kepada saya apakah dia boleh makan snack dulu baru pulang atau tidak. Karena saya pikir masih banyak waktu sebab kunjungan guru dijadwalkan pada pukul setengah lima sore, maka saya mengizinkan dia untuk makan snacknya sebelum pulang. Sambil menunggu Wisang saya pergi ke kelasnya dan langsung menuju lokernya untuk mengambil tas Wisang. Di situ saya seorang wali kelasnya yaitu Ibu Y menyapa saya dengan wajah sumringah "Selamat sore ibu, pasti capek ya sudah beraktivitas seharian." Ibu Y mengenakan celemek dan sibuk menyedot seluruh ruangan menggunakan vacuum cleaner. Ada juga guru lain di situ yang tentu saja dengan ramahnya menyapa saya, guru itu pun sedang memegang sulak membersihkan alat-alat di ruangan itu. Setelah basa basi sebentar saya menuju ke loker Wisang. Keluar dari kelas saya berpapasan dengan wali kelas lain yaitu Bapak K yang sibuk memegang sikat panjang dengan celana dan lengan baju tergulung ke atas. Rupanya Bapak K sedang menyikat toilet anak-anak.

Di lain hari, pada pukul 6 sore saya juga sering melihat para guru menyapu halaman dengan sapu lidi, mengepel dan menyiram jalan di depan sekolah supaya tidak berdebu. Pada musim dingin ketika salju turun dengan lebatnya, bapak ibu guru, bahkan kepala sekolah pun turun ke jalan membersihkan salju yang menutupi jalan dengan sekop atau menyiramnya dengan air panas yang direbus di dapur sekolah. Semua mereka lakukan sendiri. Tidak ada penjaga sekolah, pak bon, apalagi staf cleaning service yang harus membersihkan sekolah setelah jam pelajaran usai. Anak-anak tentu saja juga dilibatkan dalam kegiatan menjaga kebersihan sekolah, tetapi pada dasarnya tugas bersih-bersih yang utama dilakukan bergiliran oleh para staf pengajar sekolah itu sendiri.

Hal ini juga berlaku sama di sekolah dasar. SD T dimana anak saya duduk di kelas dua ini tidak memiliki penjaga sekolah maupun staf bersih-bersih. Setiap hari anak-anak secara bergiliran bertugas menyapu, mengepel dan membersihkan ruang kelas bahkan toilet. Menyapu halaman dan jalan depan sekolah adalah tugas para guru. Setiap pagi, para guru bercelemek menyapu halaman sekolah, selain itu beberapa orang guru yang bertugas setiap pagi berdiri di gerbang sekolah untuk menyambut anak-anak yang datang berjalan kaki berombongan. Para guru dengan semangat mengucapkan "Selamat pagi!" dan para murid tentu saja dengan lebih semangat menjawab salam tersebut. 

Bila tidak ada acara khusus di sekolah, para guru TK maupun SD biasanya kebanyakan berbaju olah  raga atau minimal mengenakan pakaian yang mudah digunakan untuk bergerak. Guru-guru TK biasanya bercelemek di atas celana pendek dan kaosnya. Mereka selalu mengutamakan kemudahan bergerak daripada penampilan. Apabila ada acara khusus yang melibatkan orang tua murid atau acara tertentu barulah mereka mengenakan blazer atau jas. Jadi jangan membayangkan para guru itu menyapu menggunakan setelan safari apalagi jas lengkap berdasi!

Memang tidak bisa dipungkiri membayar staf khusus hanya untuk bersih-bersih memerlukan banyak biaya di sini, tetapi menjadi guru memang harus digugu dan ditiru, kalau murid melihat gurunya turun tangan sendiri untuk bersih-bersih sekolah, pastilah murid itu juga akan malu kalau tidak serius ikut berpartisipasi menjaga kebersihan sekolah. 

Mar 21, 2013

Salju 2013

Kyaaaaa....

Ternyata ada postingan bulan Januari yang  belum selesai ditulis dan tidak saya publish di antara banyak draft tulisan saya.

Daripada sayang karena sudah terlanjur ditulis, saya terusin aja deh ya.

Bulan Januari salju turun pertama kalinya untuk tahun ini di Tokyo. Lumayan lebat dan menumpuk. Untung hari itu saya tidak ada kegiatan jadi saya tinggal di rumah bersama Wisanggeni sambil memandangi lebatnya hujan salju yang turun dari balik jendela.

397663_10200520000668228_922088080_n.jpg



Keasyikan saya memandangi salju lama kelamaan berubah jadi kekuatiran melihat derasnya hujan salju yang tak kunjung berkurang. Bukan apa-apa. Keesokan harinya saya ada janji pagi-pagi, dan biasanya kalau salju turun lebat dan menumpuk seperti ini, keesokan harinya salju yang lembut seperti es serut ini akan berubah membeku dan menjadi mesin yang membuat orang jadi susah jalan dan terpeleset. Banyak orang yang terpeleset akibat salju beku ini, bahkan sampai mengalami patah tulang. Bila kita berjalan di atas salju yang baru turun memang terasa lembut dan empuk meskipun pasti basah kuyup, tetapi bayangkan saja bila salju itu mengeras menjadi seperti arena ice skating dan kita berjalan di atasnya bukan dengan sepatu khusus ice skating tapi dengan sepatu biasa! Kalau tidak hati-hati pasti terpeleset atau bisa terjembab kan.

306594_10200519999628202_1854962363_n.jpg


Memang ramalan saya menjadi kenyataan. Keesokan harinya, ketika saya membuka pintu apartemen, jalan di depan rumah saya penuh dengan tumpukan salju, jangankan naik sepeda untuk jalan kaki tanpa terpeleset saja butuh teknik khusus. Akhirnya saya memutuskan untuk berjalan kaki mengantar Wisang ke sekolahnya. Wisang sih seperti biasa kegirangan melihat salju dimana-mana, sementara saya stress karena takut terlambat akibat harus jalan timik-timik kata orang Jawa. Hehehee....

76086_10200519997308144_651433979_n.jpg


Dari rumah ke sekolah Wisang naik sepeda kira-kira perlu waktu 10 menit kalau santai-santai mengayuhnya. Sedangkan kalau jalan kaki sekitar 20 menit. Di hari yang bersalju seperti ini, saya membutuhkan waktu 40 menit untuk sampai ke sana. Tas ransel di gendongan, tangan kanan menggandeng Wisang, tangan kiri membawa ransel Wisang dan berbagai keperluannya yang lain. Kami tidak bisa jalan cepat-cepat karena takut terpeleset, jadi saya sudah mengalokasikan waktu jauh lebih cepat daripada biasanya (meskipun demikian saya terlambat 10 menit dari jam janjian saya!). Beberapa kali Wisang dan saya hampir terpeleset, akhirnya Wisang satu kali terjembab di dekat sekolahnya, wah dia hampir menangis karena kesakitan untung cepat lupa sakitnya karena melihat para guru sibuk menuangkan air panas untuk mencairkan salju yang membeku agar anak-anak tidak terpeleset. Saya mengagumi kerja keras para guru itu, bahkan kepala sekolah pun turun tangan ikut sibuk menyirami salju di depan sekolah.

735197_10200514164762334_29253272_n.jpg
Salju beku yang sudah disiram air panas

Dari sekolah Wisang saya harus jalan kaki lagi selama lebih dari 30 menit ke stasiun. Waaah hari itu rasanya capek sekali karena harus selalu menjaga keseimbangan agar tidak jatuh, tapi senang juga karena bisa melihat salju untuk pertama kalinya di tahun ini!

Flu Burung, Tamiflu, Bronkitis dan Alergi Pollen

Waduh lamaaaanya saya gak nulis di sini saking sibuknya dengan penelitian dan kerjaan yang gak ada habisnya. Niat dan ide nulis buanyaaaak, tapi sering-seringnya mau nulis udah teler duluan karena rata-rata kerjaan rumah dll baru selesai dengan kata lain saya baru bisa duduk setelah jam 12 malam, hehhee...

Minggu lalu saya baru sembuh dari avian flu alias flu burung (B型インフルエンザ). Awalnya yang kena flu ini Banyu. Setiap musim dingin, di sini memang selalu mewabah avian flu, baik itu yang tipe A yaitu yang ditularkan dari binatang ke manusia, maupun yang tipe baru yaitu tipe B yang ditularkan dari manusia ke manusia. Setiap musim dingin udara sangat kering sehingga mempercepat penyebaran virus ini. Setiap tahun sekali pada bulan November saya selalu mengimunisasi anak-anak saya dengan dengan imunisasi avian flu tipe campuran A dan B dan selama ini hasilnya memang manjur sekali. Meskipun di TK anak-anak pada saat peak hampir 75 persen anak terkena avian flu, mereka tidak pernah ketularan. Namun entah kenapa tahun ini Banyu ketularan dari sekolahnya. Mungkin karena di SD anaknya lebih banyak dan kontrolnya tidak seketat di TK. Kalau di TK anak dengan suhu tubuh di atas 37.5 sudah tidak diperbolehkan masuk sekolah sehingga memperkecil penularan antar teman.

attachment.jpg
Banyu sampai cekikikan nemu tulisan perusahaan obat dari Amerika yang
namanya BANYU di ruang tunggu dokter anak
Sejak awal Februari hampir setiap hari saya sudah menerima email pemberitahuan bahwa ada kelas yang ditutup selama 4 hari akibat banyaknya murid yang terkena avian flu, dalam bahasa Jepang ini disebut gakkyu heisa (学級閉鎖). Awalnya hanya satu kelas, lama kelamaan bisa tiga atau empat kelas, bahkan lebih, yang ditutup alias diliburkan selama 4 hari. Saya sudah deg-deg an aja setiap ada email masuk dari sekolah Banyu, jangan-jangan kelas Banyu yang akan diliburkan. Bukan apa-apa, terus terang saya bingung kalau Banyu harus libur sampai 4 hari. Karena libur akibat wabah avian flu ini artinya si anak juga tidak boleh datang ke tempat penitipan karena berpotensi menulari teman lainnya. Bagi yang memiliki eyang, tante, om atau sodara sih tidak masalah, tapi bagi saya ini masalah besar, karena tidak mungkin meninggalkan Banyu di rumah seharian. Banyu memang sudah biasa saya latih untuk tinggal sendiri di rumah alias jaga rumah, tapi biasanya untuk jangka waktu yang pendek, paling lama 2 jam. Kalau lebih dari itu saya selain tidak tega juga sebenarnya tidak terlalu dianjurkan meninggalkan anak di bawah usia kelas tiga SD di rumah tanpa pengawasan. 

Tanggal 26 Februari saya ditelpon oleh tempat penitipan di sekolah Banyu sekitar pukul setengah empat. Guru yang bertugas mengatakan bahwa Banyu suhu tubuhnya tinggi sehingga harus dijemput secepat mungkin. Guru itu juga berkata bahwa sahabat terdekat Banyu, yaitu Risa positif terkena avian flu sehingga kemungkinan besar Banyu juga kena flu ini karena mereka selalu main bersama. Saya panik seketika membayangkan kemungkinan Banyu kena avian flu! Karena avian flu baru bisa terdeteksi setelah panas tinggi minimal 24 jam maka sore itu saya sengaja tidak membawa Banyu ke dokter langganan kami dan hanya memberinya obat turun panas. Badannya memang panas sekali dan dia kelihatan lemas. Pipinya sampai merah padam menahan panas tubuhnya. Sore itu juga Banyu saya isolasi di satu kamar, dan kami bertiga selalu mengenakan masker meski berada di dalam rumah.

attachment.jpg

Keesokan harinya ketika pagi hari saya menelepon ke dokter, kami dianjurkan untuk datang sore hari saja supaya panasnya genap 24 jam, jadi saya membawa Banyu ke dokter itu sekitar pukul 4 sore. Sampai di sana kami langsung diisolasi di ruang tertentu agar tidak menulari pasien lain, dan Banyu segera dites apakah ia terkena avian flu atau hanya flu biasa. Baru kali ini saya melihat cara dokter mengetes pasien suspect avian flu. Dokter memasukkan semacam cotton bud ke dalam hidung untuk mengambil cairan yang ada di pangkal hidung. Kami menunggu hasil pemeriksaan itu kira-kira 15 menit lalu dokter mengatakan bahwa Banyu memang positif terkena avian flu. Kami mendapat Tamiflu dan beberapa obat untuk batuk dan pilek juga. Tamiflu ini obat keras dengan berbagai efek samping seperti halusinasi, insomnia, sariawan, dan sebagainya sehingga pemakaian pada anak-anak harus selalu dalam pengawasan orang tuanya. Karena berfungsi membunuh virus dan mencegah penyebarannya, tamiflu harus dikonsumsi oleh penderita avian flu dalam waktu 48 jam sejak demam pertama. Apabila lebih dari itu, maka tamiflu tidak akan berfungsi apa pun di dalam tubuh.

312318_10200884123291066_2020176590_n.jpg
Tamiflu untuk anak-anak berbentuk puyer
Sesampai di rumah segera saya menelepon ke sana kemari untuk membatalkan janji dan beberapa pekerjaan saya, karena sudah jelas saya tidak bisa keluar rumah meninggalkan Banyu minimal untuk lima hari ke depan. Anak yang terkena avian flu di larang pergi sekolah minimal selama 5 hari. Dan biasanya baru boleh sekolah 3 hari setelah demam terakhir dengan membawa surat yang menerangkan sejak kapan ia demam, berapa derajat demam tertinggi, dan sebagainya. Surat itu adalah semacam formulir yang dibagikan oleh sekolah kepada kami para orang tua murid saat wabah influenza terjadi.

Mungkin karena Banyu sudah saya imunisasi, dia lumayan cepat recovery dan segera sehat kembali setelah 3 atau 4 hari. Hanya saja karena obatnya semua berbentuk puyer maka setiap waktu minum obat saya selalu seperti bersiap-siap mau perang. Apalagi tamiflu sangat pahit dan lumayan banyak takarannya. Segala macam cara minum obat saya coba, awalnya Banyu muntah mungkin karena rasa pahitnya, tetapi lama kelamaan dia sudah pintar menyiasati rasa pahit di mulutnya.

Hari jumat sore tanggal 1 Maret saya sudah merasa sangaaaaat tidak enak badan. Badan saya rasanya sangat pegal dan pusing pun tak kunjung hilang. Hari itu belum ada demam, tetapi hari sabtu tanggal 2 Maret, saya bangun dengan sedikit demam dan sakit tenggorokan serta batuk yang lumayan hebat. Karena hari itu saya ada janji, saya cepat-cepat mandi, dan saya merasa saya akan sakit karena saya merasa kedinginan hebat. Kebetulan saya alergi serbuk bunga (pollen) yang hebat dengan gejala mata sangat gatal, meler seperti orang pilek dan pusing, jadi saya kira alergi saya sedang menghebat hari itu. Tapi anehnya kok rasanya persendian saya pegal dan ada demam ya, saya langsung curiga bahwa saya sudah ketularan Banyu. Saya segera membatalkan janji dan pergi ke dokter di dekat rumah. Dan setelah melewati serangkaian tes, saya dinyatakan positif terkena avian flu jenis yang sama dengan Banyu. Waaaaah saya panik berat! Bagaimana tidak, hari itu tanggal 2 Maret, sedangkan tanggal 6 Maret saya harus terbang ke Bangkok untuk presentasi di Konfrensi Internasional. Matiiii deh, rasanya saya gak mungkin berangkat dengan kondisi seperti ini. 

549923_10200916583742557_255269119_n.jpg
Tamiflu yang bikin saya gak bisa tidur berhari-hari
Meskipun sudah mengkonsumsi tamiflu dan obat turun panas, rasanya tiap hari kondisi saya semakin buruk. Demam sama sekali tidak turun selama lima hari. Bayangkan lima hari berturut-turut demam tinggi sampai 39 derajat. Rasanya saya tidak sanggup turun dari tempat tidur. Kondisi ini diperparah dengan pilek dan batuk yang hebat. Mungkin karena saya tidak imunisasi jadi kondisi sakitnya tidak seringan Banyu. Hari-hari pertama saya masih sanggup makan seperti biasa, hari berikutnya saya lemah dan sakit lambung (mungkin akibat obat yang terlalu banyak dan keras) sehingga saya hampir tidak bisa makan, padahal dianjurkan banyak makan agar kondisi tubuh bisa normal kembali. Selain itu saya tersiksa dengan efek samping tamiflu, sebagian mulut saya terkena sariawan hebat sehingga saya semakin tidak bisa makan dan saya terserang insomnia berat. Selama lima hari praktis saya setiap harinya hanya bisa tidur selama 3 jam, itu pun dengan mimpi atau halusinasi yang gak jelas. Anehnya meskipun hanya tidur 3 jam saya sama sekali tidak merasa ngantuk atau pusing, hanya badan terasa lemah karena demam yang begitu tinggi. Awalnya saya tidak menyadari bahwa ini adalah efek samping tamiflu sampai dokter mengatakan demikian. Rasanya kapoooook mengkonsumsi obat keras seperti tamiflu itu, mengerikan!

Di tengah sakit yang hebat saya harus menelpon ke sana kemari untuk membatalkan keikutsertaan saya dalam konfrensi internasional di Bangkok, membatalkan tiket pesawat yang sudah saya bayar, mengembalikan segala macam subsidi dari kampus dan foundation penyandang dana melalui bank, dan sebagainya. Untunglah banyak teman yang gak bosan menyemangati saya dan meyakinkan saya kalau setelah lima hari demam pasti akan turun. Dan memang hari ke enam demam sudah tidak datang lagi. Pilek juga jauh berkurang tetapi batuk masih tetap parah. Karena avian flu yang berkepanjangan biasanya disertai efek samping pneumonia atau bronkitis, maka ketika saya cek ke dokter lagi, ia menyarankan saya untuk dironsen mengingat batuk saya yang tidak kunjung sembuh. Untungnya paru-paru saya dinyatakan bersih meski dokter berkata bahwa saya terkena bronkitis. Ya ampuuun seumur hidup baru sekali deh dinyatakan ke bronkitis. Akhirnya saya pulang menenteng obat yang buanyaaaak untuk menyembuhkan bronkitis saya. Meski demam sudah turun, rasa lemas masih belum hilang, rasanya masih capek sekali. Untungnya hari ke tujuh saya mulai bisa tidur normal, mungkin karena efek tamiflu sudah hilang dari tubuh saya.

Karena sudah mulai pulih saya lalu pergi ke dokter lain untuk memeriksakan alergi saya yang sangat hebat ini. Saya sudah tidak tahan dengan mata yang super guataaaaaal, hidung yang meler dan air mata yang keluar padahal tidak sedang menangis. Karena saya belum pernah dicek alergi maka dokter menyarankan saya cek alergi, jadi disuntiklah lengan kiri saya untuk diambil darahnya, hiiiiii saya pingin teriak ketakutan rasanya kalau gak gengsi saat itu! Dokter memang memvonis saya alergi serbuk bunga dari pohon sugi, dan lagi-lagi saya membawa pulang segepok obat alergi dari klinik. Obatnya terdiri dari tiga jenis, obat semprot hidung untuk mengurangi peradangan di hidung, obat berupa pil 2 jenis, dan obat tetes mata khusus alergi. Saya tidak menyangka obat-obat itu sangat manjur sekali karena biasanya obat Jepang tidak sekuat obat Indonesia jadi suka kurang bereaksi di tubuh saya! Setelah saya minum obat dan memakai tetes mata serta obat semprot itu reaksi alergi terhadap serbuk bunga jauuuuuh berkurang. Rasanya kembali jadi manusia normal yang tidak sibuk kucek-kucek mata sepanjang waktu, hehehhe...

Ah mudah-mudahan setelah ini tidak ada penyakit-penyakit yang datang kepada kami. Gara-gara sakit ini tumben banget saya 2 minggu penuh ada di rumah, bisa istirahat tanpa lari ke sana kemari. Mungkin memang ini caraNya mengingatkan saya bahwa tubuh saya pun perlu istirahat. Mulai minggu ini saya siap beraktivitas lagi, dan memang dua minggu libur membuat beberapa hal jadi terbengkalai, jadi saya harus mulai tancap gas lagi untuk penelitian dan lainnya!! 

Jun 16, 2012

Stefano Ksatria Wisanggeni

Stefano Ksatria Wisanggeni, itulah nama lengkap anak saya yang kedua. Sehari-hari dia biasa dipanggil Wis atau Wisang. Tidak sampai 3 minggu lagi ia akan merayakan ulang tahunnya yang ke-5. Ya, sebentar lagi Wisang akan berusia 5 tahun! Tidak terasa begitu cepat waktu berlalu, rasanya ia baru saja saya lahirkan beberapa hari yang lalu. Saya ingat di awal kehamilan Wisang, kami sampai perlu konsul ke 3 dokter kandungan yang berbeda karena test pack dari berbagai jenis mulai yang murah sampai yang mahal tidak bisa memberi tahu saya secara akurat apakah saya hamil atau tidak. Dua dokter yang pertama pun tidak bisa memastikan apakah di kandungan saya ada seorang bayi atau tidak. Yang paling parah, salah satu dari 2 dokter itu bahkan memberi saya obat yang katanya bisa melancarkan datang bulan saya seperti biasa! Oh noooo!!!! Rasanya ingin saya cekik dokter itu hehehhe... Tentu saja obat itu tidak saya beli! Akhirnya dokter yang ketiga memberi harapan sedikit cerah dengan mengatakan bahwa ada kantong bayi dalam rahim saya meskipun belum kelihatan ada bayi di dalamnya, dan saya disuruh kembali lagi beberapa waktu kemudian.

Untung saja waktu itu saya tidak menuruti nasihat dokter gila yang memberi saya obat untuk mengeluarkan "Wisang" secara paksa dari kandungan saya karena ternyata Wisang tumbuh sehat dan kuat sampai waktunya lahir. Nama Wisanggeni sebenarnya awalnya saya ambil dari sebuah novel yang sangat-sangat saya sukai waktu itu. Entah kebetulan atau tidak, ketika saya matur ke papa kalau mau menamai anak saya Wisanggeni, bersambutlah gayung karena ternyata sejak dulu papa ingin punya cucu yang dinamai Wisanggeni. Kalau alasan saya menamai karena novel, tentu saja alasan papa saya karena beliau sangat tergila-gila dengan wayang. Saya masih ingat, salah satu koleksi kaset wayangnya ada yang berjudul Wisanggeni Gugat. Ketika Wisang lahir, kebetulan di suatu daerah di Jogja, digelar wayang dengan judul Lahirnya Wisanggeni. Dan sudah saya duga papa pasti nonton wayang itu sampai pagi, padahal sudah saya ingatkan harus menjaga kesehatan, gak usah begadang sampai pagi nonton wayang. Ah, papa.....

Karakter Wisang agak sedikit beda dengan kakaknya, Banyu Sakuntala. Kalau Banyu adalah sebuah pribadi yang kuat dan mandiri. Wisang, meskipun ia juga kuat dan mandiri, ia masih suka dimanja-manja. Saya rasa mungkin ia tahu dan merasa bahwa semua anggota keluarga di rumah sangat suka dan menyayangi dia. Dialah satu2nya yang setiap pagi selalu memeluk dan mencuim saya bila saya ada di sampingnya baik ketika bangun pagi atau saat mengantar ke sekolah. Tidak lupa selalu bilang "Mama daisuki -I love you mama" Suatu hari dia bahkan bilang "Mama to kekkon suru - Aku (kalau sudah besar) mau menikah dengan mama" Hahahhaha..... Saya sampai suka dimarahi suami saya karena kuatir Wisang kena Oedipus Complex. 

Kelakuannya pun kadang-kadang lucu kalau tidak bisa dibilang unik. Waktu ia berusia kurang dari 4 tahun sudah bisa membaca buku cerita anak hiragana dan katakana dengan lancar, meski saya sekali pun tidak pernah mengajarinya membaca aksara hiragana atau katakana. Uniknya Wisang bukan karena dia bisa membaca buku cerita, itu sih biasa. Yang unik adalah waktu itu dia tidak pernah mau membaca buku dengan posisi normal, artinya dia selalu membaca buku dengan posisi terbalik dari atas! Aneh kan, hehehehe..... Setiap kali dibetulkan, kembali lagi dia baca dengan terbalik, akhirnya ya sudah saya biarkan saja dia membaca dengan posisi sesukanya.

Setiap hari ada saja kelakuan Wisang yang selalu bikin saya tersenyum. Hari ini saya menemukan dia duduk di meja makan menonton Casper dari iPad saya. Yang bikin saya ngakak adalah, dia tidak menonton film itu langsung dari layar iPad tetapi dia memegang cermin yang diarahkan ke iPad itu, lalu dia menontonnya dari cermin yang memantulkan film Casper tadi. Hehheeh aneh ya.


Wisang.. Wisang... terima kasih sudah mencerahkan hari-hari mama ya. Ditengah kepanikan membuat tulisan, presentasi dan sebagainya, saya selalu bisa tersenyum melihat Wisang dan keunikannya.

Jun 12, 2012

Anpanman Museum


Awal Mei 2012 kami pergi ke museum Anpanman yang tereletak di Yokohama. Anpanman adalah salah satu tokoh serial kartun Jepang yang sangat terkenal di sini. Tokoh kartun ini semua berbentuk roti dan makanan lain khas Jepang, mulai dari roti tawar sampai . Tokoh utamanya dinamakan Anpanman karena bentuknya roti anpan, yaitu roti bulat berisi an atau kacang merah manis di dalamnya. Si super hero anpanman ini memiliki sahabat-sahabat seperti Melonpanman (berbentuk roti melon), Karepanman (roti isi kare), Shokupanman (roti tawar), Rollpanman (roti gulung), Dokinchan (dokinchan ini satu2nya tokoh yang berbentuk anak perempuan), Yakisobapanman (roti isi mi goreng), Tendonman (berbentuk bowl isi tempura), seorang laki-laki pembuat selai, dan banyak lagi tokoh lain. Lawannya adalah si kuman Baikinman yang digambarkan selalu mengganggu anpanman dan teman-temannya.

Wisang dan karakter favorite nya, Baikinman, si Kuman :)

Banyu paling suka Dokinchan (kanan) yang digambarkan menyukai Shokupanman (si Roti Tawar, kiri)

Dari stasiun Yokohama, kami berjalan kaki menyusuri sungai kira-kira 15 menit untuk sampai ke museum itu. Berhubung hari itu hari libur, ketika sampai di pintu gerbang antrian sudah mengular. Antrian itu adalah antrian pengunjung yang akan membeli karcis masuk di loket penjualan karcis. Kami harus bersabar mengantri selama hampir 1 jam. Karena belum makan saya membeli sekantong ayam goreng dan kentang goreng untuk camilan Banyu dan Wisang di booth yang ada di dalam lokasi museum. Untunglah meski mendung hujan tidak turun saat kami mengantri. Setelah mendapat karcis masuk, kami segera naik ke lantai paling atas untuk melihat diorama cerita anpanman dan teman-temannya. Karena bangunan museum tidak terlalu luas, maka dengan meluapnya pengunjung di hari libur ini rasanya dimana-mana sesak penuh orang.

Sambil antri liat pemandangan sekitar, mobil ini milik museum yang digambari karakter Anpanman dkk ini mengingatkan saya akan mobil milik kaos Dagadu di Jogja :))

Tutup saluran air di pinggir jalan, cantik ya!!

Selain patung-patung miniatur anpanman dkk, banyak juga sarana bermain untuk anak yang ada disana. Ada berbagai booth restoran mini untuk anak-anak bermain sebagai pelayan restoran disitu. Di antaranya ada restoran sushi, takoyaki, beef bowl dan sebagainya. Selain itu di lantai 2 anak-anak bisa mengikuti workshop menggambar di ruang tertentu pada waktu yang telah ditetapkan. Tentu saja Banyu yang hobi banget menggambar langsung menuju kesana ketika waktu workshop dibuka. Sementara menunggu Banyu dan Wisang menggambar saya iseng melihat-lihat ruang pamer lantai 2. Disana ada satu ruangan dimana tergantung lukisan-lukisan anpanman dkk dalam ukuran besar. Di situ juga tertulis riwayat kelahiran Anpanman. Karakter kartun ini ternyata lahir dari tangan seorang tentara yang pada PD 2 ditugaskan maju ke medan perang di Cina. Karena lamanya ia pergi berperang, tentu saja ia merindukan makanan Jepang, dan katanya saat itu yang paling ingin dimakannya adalah roti isi kacang merah (anpan). Untuk menghibur dirinya sendiri mulailah ia menggambar karakter itu dan membuat suatu cerita dalam bentuk komik. Setelah perang selesai, ia meneruskan hobinya itu secara profesional sampai anpanman jadi karakter idola semua anak di Jepang hingga kini.

Ini dia si tokoh utama pembela kebenaran si Anpanman

Jadi pelayan di booth restoran sushi

Ikut workshop menggambar karakter-karakter Anpanman dkk

Setelah selesai di lantai 2, kami turun ke lantai 1 untuk menonton di ruang teater. Disitu anak2 bisa berjumpa dengan idola mereka sambil menyanyi dan menari bersama setelah sebelumnya disuguhi tontonan 2 film kartun pendek di layar yang ada di depan panggung. Pertunjukan itu dikemas sedemikian rupa sehingga sangat menarik bagi anak- anak. Dipandu seorang wanita yang dipanggil oneesan (kakak perempuan), Anpanman muncul bersama musuhnya yaitu Baikinman lalu menyanyikan lagu-lagu mereka sambil berinteraksi dengan anak2. Wisang yang sukaaaa sekali dengan kartun Anpanman langsung jingkrak-jingkrak dan menyanyi lagunya keras-keras. Saat itu saya jadi ingat ketika saya nonton konser Bon Jovi 2 tahun yang lalu di Budokan. Mungkin seperti itulah perasaan Wisang saat itu, heheheh....

Pertunjukan Anpanman, Baikinman, dan Oneesan

Pintu masuk teater

Jun 11, 2012

Catatan kecil di dalam kereta

Bon Jovi, ya grup musik Bon Jovi, siapa sih manusia di generasi saya yang tak kenal grup band rock asal New Jersey yang digawangi oleh Jon Biongovi, Richie Sambora dan teman-temannya. Saya sendiri ngefans cukup berat, kalau gak bisa dibilang akut kepada grup ini sejak saya masih duduk di bangku SMP. Saya ingat lagu pertama yang membuat saya terpesona adalah lagu berjudul Livin' On A Prayer sekitar akhir tahun 80an. Lagu itu tentu saja lagi-lagi diperkenalkan oleh ayah saya yang juga penyuka musik rock lewat sebuah video beta (waktu itu belum ada vcd apalagi dvd!). Saya masih ingat, di dalam video itu terdapat banyak klip grup-grup rock yang sedang in saat itu, tetapi entah kenapa saya sangat terkesima dengan penampilan Bon Jovi saja. Masih lekat dalam ingatan saya, dalam klip itu sang vokalis menyanyi dengan gaya gahar, rambut gondrong sepinggang plus asesoris ala rocker melakukan adegan terbang di atas penonton menggunakan harnes atau semacamnya. Saya yang masih duduk di usia akhir Sekolah Dasar ternganga-nganga dengan aksinya yang saya anggap sangat sangat kereeen waktu itu.

Setelah duduk di bangku SMP saya ingat seorang teman meminjamkan kaset album terbaru Bon Jovi yang berjudul New Jersey, dan seketika itu juga saya semakin jatuh cinta akut dengan grup ini. Sampai sekarang pun entah mengapa dari semua album mereka, album New Jersey lah yang paling lekat dalam ingatannya saya. Saya masih tetap menyanyikan dan mendengarkannya setiap hari di ipod saya sampai hari ini. Waktu Bon Jovi pada musim dingin sekitar 2 tahun yang lalu menggelar konsernya di Budokan, saya sudah heboh mencari tiketnya meski saya tahu harganya pasti amat sangat mahal. Tapi tak apalah, yang penting hasrat berjumpa penyanyi pujaan sudah terpenuhi. Malam itu saya puassss menyanyi bersama si Jon dkk meski hampir terlambat datang karena saya terbirit-birit lari dari kuliah saya yang baru berakhir pukul 6 sore.

Hari ini pun di tengah kegalauan hati saya berangkat dari rumah dengan head phone terpasang di telinga mendengarkan si Jon melengking-lengking menyanyikan Livin' on a prayer, you give love a bad name, dan sebagainya. Dan entah mengapa setiap saya mendengarkan lagu-lagu mereka hati serasa sejuk, bibir selalu ingin tersenyum, dan ingatan kembali ke masa muda lebih dari 20 tahun yang lalu. Hidup serasa indah... Semua resah serasa hilang diterbangkan angin mendengar suara Jon yang meyusup di hati.

Memang akhir-akhir ini saya resah dan gugup bukan main karena minggu depan tanggal 19 Juni saya harus mempresentasikan penelitian saya di depan semua profesor di departemen saya dan mahasiswa pasca sarjana dalam sebuah seminar terbuka. Baru membayangkan saja perut saya sudah mules bukan main, jantung berdetak kencang, dan langit di atas serasa mau runtuh menimpa saya. Saya mencoba dan cukup berhasil mensugesti diri saya bahwa seminar ini bukan apa-apa dan tidak ada yang perlu ditakutkan dari para profesor penguasa departemen saya. Ya, sugesti ini cukup berhasil sampai minggu lalu, namun akhirnya mungkin alam bawah sadar saya menolak semua sugesti saya, dan akhirnya jatuh sakitlah saya hari sabtu yang lalu dihampiri demam tinggi hampir 39 derajat celcius. Sebenarnya sakit itu bukan semata-mata tumpukan stress saya akan seminar dissertasi saya yang akan datang itu, tetapi juga disebabkan perubahan cuaca yang amat sangat drastis beerapa minggu ini. Pagi ini pun saya bangun dengam kepala berat dan perasaan panik karena seminar tinggal 1 minggu lalu. Mencoba menarik nafas panjang dan mulai bersiap berangkat ketika saya sadar lagu-lagu Bon Jovi pada skala tertentu berhasil membuat hati saya tenang dan bibir tersenyum kembali. Saat ini pun saya masih terus memberitahu diri saya sendiri bahwa saya akan baik-baik saja minggu depan.
Mudah-mudahan :))

Seijogakuenmae 11 Juni 2012

Jun 10, 2012

The Railway Museum 鉄道博物館

Kaca patri favorit saya jadi interior museum lantai 2
Bulan lalu kami minus Banyu mengunjungi museum kereta yang terletak di Omiya, Perfektur Saitama. Sebenarnya sudah lama saya ingin kesana, tapi karena tempatnya lumayan jauh baru liburan GW kemarin kami sempat kesana. Sayangnya hari itu Banyu tidak libur jadi kami hanya pergi bertiga. Dari rumah kami langsung menuju ke Shinjuku lalu berganti kereta jalur JR ke arah Omiya. Sampai Omiya, karena sudah mendekati jam makan siang maka kami memutuskan untuk makan di restoran yang ada di sekitar stasiun. Di salah satu lorong di seberang stasiun terdapat banyak tempat makan, mulai dari sashimi bowl, beef bowl, sampai restoran Cina. Kami memutuskan masuk ke restoran Cina dan makan cepat-cepat agar tidak membuang waktu.
Interior Stasiun 

  

Dari Omiya sebenarnya museum bisa dicapai dengan berjalan kaki sekitar 20 menit, tapi berhubung hari itu hujan, kami memutuskan naik kereta JR New Shuttle yang melayani rute pendek sepanjang 12 km yang juga melewati museum itu. Dengan membayar ongkos kereta 180 yen kami bisa turun langsung di depan pintu masuk museum. Museum kereta yang dikelola oleh JR ini dibuka pada tanggal 14 Oktober 2007 jadi yah masih terhitung baru. Tiket masuknya 1000 yen untuk dewasa, 500 yen untuk anak SD dan SMP, 200 yen untuk anak balita. Tiketnya bisa dibeli di mesin-mesin penjual tiket yang terletak di pintu masuk. Yang menarik adalah ada dua jenis mesin penjual tiket. Di sisi kiri adalah mesin penjual tiket yang menerima pembayaran uang cash, sedangkan di sisi kanan tiket bisa dibeli di mesin dengan menggunakan kartu pasmo atau suica (tentang kartu-kartu ini pernah saya tulis disini). Di dekat pintu masuk juga ada fasilitas coin locker gratis, hanya dengan memberi deposit 100 yen (deposit ini akan kembali ketika kita mengembalikan kunci loker) kita bisa menggunakan loker tersebut.



Mesin penjual tiket, pembelian dengan uang cash (kiri), pembelian dengan kartu suica (kanan)


 
Plat nomer kereta tahun 1916 (kiri), Logo di kereta buatan Inggris 1871 (kanan)


Begitu masuk museum, di lantai 1 kami disambut dengan jejeran cafe yang juga menyediakan paket makan siang. Karena kami tiba saat jam makan siang maka seperti yang sudah kami duga antrian di restoran dan cafe itu lumayan panjang, untungnya kami sudah makan sebelum tiba di sana. Kami segera menuju arah kanan dan naik ke lantai 2. Di lantai itu ada diorama yang besar sekali yang bercerita tentang sejarah kereta-kereta yang dioperasikan oleh JR (Japan Railway). Di sana juga terdapat semacam teater kecil dimana kami bisa menikmati cerita bagaimana kereta beroperasi mulai pagi sampai malam. Miniatur kereta yang digunakan persis menyerupai aslinya dan terdiri dari berbagai macam jenis, mulai dari kereta listrik dalam kota, kereta antar kota, sampai kereta ekspres shinkansen. Setelah disuguhi show di ruang teater itu selama kurang lebih 20 menit kami lalu keluar dan kembali turun ke lantai 1.

Pertunjukan di dalam teater
Lantai 1 hampir seluruh ruangannya dijadikan ruang pamer kereta-kereta yang dimiliki JR pada awal beroperasi. Saya sangat terkagum-kagum dengan kondisi kereta yang masih sangat bagus, padahal banyak diantaranya sudah berusia puluhan bahkan mungkin ratusan tahun. Salah satunya adalah yang dipakai untuk mengangkut para pegawai pemerintah yang dikirim oleh Pemerintah Meiji ke Hokkaido (Hokkaido Kaitakushi 北海道開拓史). Program pengiriman pegawai untuk membuka lahan dan mengajak penduduk untuk bertransmigrasi ini berlangsung dari tahun 1869-1882. Melihat tulisan Hokkaido Kaitakushi di dinding kereta, saya membayangkan siapakah yang dulu menaiki kereta itu dan bagaimanakah perasaan mereka dikirim ke tempat yang jauh dan masih belum jelas keadaannya.

Kereta Ke Hokkaido
Kereta lain yang menarik perhatian saya adalah kereta yang digunakan untuk mengangkut keluarga kaisar dan pengiringnya. Kereta ini masih terlihat sangat mewah dengan lambang bunga kiku di dinding kereta maupun rodanya. Meskipun kami tidak dapat masuk ke dalam kereta tetapi dari jendela kacanya kami bisa melihat warna keemasan interior dalam kereta, sofa yang empuk di ruang duduk, dan cermin-cermin yang indah. Saya jadi berkhayal apa ya yang dibicarakan para bangsawan itu dalam perjalanan mereka waktu itu.

Kereta khusus keluarga kaisar berlambang bunga kiku yang dioperasikan pada tahun 1871
Selain kereta api dan listrik, di ruang ini juga dipamerkan kereta ekspres shinkansen mulai dari generasi pertama. Kebetulan kami diijinkan untuk masuk dan duduk di dalam shinkansen-shinkansen itu sehingga kami bisa melihat bagaimana perkembangan shinkansen ini dari waktu ke waktu. Shinkansen pertama kali muncul di Jepang pada tahun 1964 untuk bertepatan dengan diselenggarakannya olimpiade Tokyo. Jalur shinkansen yang pertama kali dibuat adalah jalur Tokaido yang menghubungkan kota-kota di Jepang timur dan barat, kemudian diikuti dengan jalur Sanyo dan Tohoku yang menghubungkan Jepang timur dengan kota-kota di daerah utara,serta jalur-jalur lain. Meski sudah berusia puluhan tahun dan terkesan kuno bila dibandingkan dengan shinkansen yang masih beroperasi sekarang ini, bagian dalam shinkansen ini sangat bersih dengan kursi-kursi yang juga bersih dan rapi. Para pengunjung yang masuk ke dalam shinkansen atau kereta yang dibuka untuk umum juga sangat tertib. Tidak ada yang mencoret-coret apalagi merusak bagian dalam atau luar kereta.

Anak-anak antri untuk berfoto menggunakan topi masinis
Salah satu kereta ekspres generasi pertama TOKI

Selain ruang pamer besar di bagian tengah lantai satu itu, di bagian belakang juga ada ruang pamer khusus shinkansen yang masih lumayan baru. Di belakang ruang itu juga ada bagian terbuka serupa halaman untuk memamerkan kereta-kereta lain. Sayangnya karena hujan kami tidak bisa melihat kereta yang dipamerkan di halaman belakang tersebut.

Salah satu souvenir di museum shop, payung bergagang kereta. Lucunya...

Berhubung sore itu kami ada janji dengan seorang teman yang juga tinggal di dekat Omiya, kami segera segera mengakhiri kunjungan kami. Tentu saja saya tak lupa mampir ke museum shop tempat menjual souvenir dan segera bergegas keluar karena mobil yang menjemput kami sudah tiba.

Jun 9, 2012

Sakit

Pagi ini tumben sekali saya bangun dengan suhu tubuh yang lebih tinggi dari biasanya. Kepala juga pusing banget dan badan sungguh sangat lemas. Saya minta Wisang mengambilkan termometer untuk mengukur suhu tubuh dan ternyata benar dugaan saya, angka di termometer itu menunjukkan angka 38.7 derajat celcius.

Karena tidak sanggup bangun saya memutuskan sarapan di tempat tidur sambil merasakan kepala yang berputar-putar ini. Seketika saya ingat bahwa hari ini ada acara senam bersama (oyako taiso) di green hall dekat sekolah Wisang. Wah gawat, mana mungkin saya pergi dengan kondisi begini, lagi pula ternyata di luar turun hujan. Ya sudahlah, akhirnya kami tidak jadi menghadiri acara senam bersama itu.

Akhir-akhir ini cuaca memang tak menentu. Siang panas, malam dingiiiin. Dan celakanya saya hampir selalu lupa membawa jaket atau sweater ketika harus pulang malam. Akibatnya, sejak kemarin pagi tenggorokan saya sakit dan puncaknya hari ini saya diserang demam yang cukup tinggi. Saya (dan anak-anak serta suami) sebenarnya termasuk orang yang jarang sakit, itu harus saya syukuri. Sakit ternyata memang tidak enak tapi untunglah suami saya rela menyiapkan makan dan memijat saya hari ini sehingga saya merasa sedikit nyaman.

Besok saya harus mengantar Banyu ke planetarium bersama teman-teman dari penitipannya dan siangnya saya harus menghadiri seminar di kampus. Whoaaaaaah semoga malam ini penyakit saya terbang dari tubuh saya sehingga besok bisa kembali bersibuk-sibuk ria.

Jun 7, 2012

SD di Jepang: Kunjungan Guru ke Rumah 家庭訪問

Selama beberapa tahun ini, setiap tahun sekali (dan mulai tahun ini 2 kali) setiap bulan Mei atau Juni, saya selalu senewen dengan kunjungan guru ke rumah untuk memantau anak didiknya dan "berakrab-akrab" dengan orang tuanya. Hari ini tanggal 7 Juni saya menerima guru wali kelas Banyu dan tanggal 29 Mei yang lalu saya menerima 2 orang wali kelas Wisanggeni di rumah.

Sebenarnya saya suka dengan program kunjungan guru ke rumah ini, hanya saja yang selalu membuat saya senewen adalah karena saya harus bersih-bersih (baca: bersiiiiih sekali) rumah sampai ke bagian-bagian kecil pun harus saya bersihkan karena saya tidak mau dianggap tinggal di rumah yang kotor. Maklumlah orang Jepang sangat ketat dan mempunyai persepsi yang berbeda mengenai kebersihan daripada kita. Bagi mereka dapur dan kamar kecil adalah tempat yang harus selalu bersih dan wangi. Kerajinan dan kerapian serta kebersihan suatu tempat diukur dari apakah tempat itu kamar kecilnya bersih dan wangi atau tidak. Kalau kamar kecilnya wangi artinya ruang lain pun pasti kebersihannya sudah terjamin.

Jadi pontang-pantinglah saya hari ini menggosok dapur saya dan bagian-bagian yang bisa terlihat dari dapur kami. Untuk informasi ruang dapur di rumah-rumah Jepang biasanya terletak di bagian depan dan jadi satu dengan ruang makan yang sekaligus berfungsi sebagai ruang duduk untuk menerima tamu. Untuk menghindari bau-bauan yang aneh, saya selalu menaruh sekaligus 3 pewangi di pintu masuk (genkan) rumah kami. Selain itu di kamar kecil 2 pewangi dan 1 pewangi lagi di ruang TV. Tak lupa sebelum jam kedatangan wali kelas, saya semprotkan pewangi lavender di sekitar dapur. Satu lagi yang selalu saya pegang adalah, saya tidak akan masak makanan Indonesia apalagi yang mengandung terasi 1 hari sebelum jadwal kunjungan! Efek bau terasi sangat dasyat karena baunya tidak akan hilang berhari-hari meski saya sudah menyalakan exhauster di atas kompor saya dan membuka jendela lebar-lebar.

Pernah suatu hari ketika saya masih kuliah S2 dan tinggal di dormitory untuk mahasiswa asing yang memiliki dapur bersama, saya membuat sambal terasi. Tentu saja terasi saya goreng dan baunya yang sedap itu menguar kemana-kemana. Saat itu saya lupa mengantisipasi bahwa bau terasi goreng itu bisa terbawa angin sampai ke bagian depan yang jaraknya 50 meter dari dapur. Celakanya waktu itu saya tinggal di lantai 1 yang terletak di gedung paling depan (dormitory saya itu terdiri dari 4 gedung utama masing-masing 5 atau 6 lantai saya lupa) dimana kantor pengelola berada. Saya sebenarnya sudah menutup pintu dapur dan jendela rapat-rapat supaya baunya tidak kemana-mana, tetapi apa boleh buat rupanya beberapa orang pegawai penasaran dengan bau yang menusuk itu dan mencari sumbernya. Begitu melihat saya, mereka bertanya "Kamu masak apa kok baunya keras banget begini?" Saya cuma bisa cengar cengir sambil menerangkan kalau terasi itu dibuat dari udang yang difermentasi.

Jadi kembali ke kunjungan guru, selama ini sih kunjungan guru berjalan lancar. Dari day care tempat Wisang dititipkan biasanya guru bertanya kalau di rumah Wisang main apa, kalau libur kemana, kondisi kesehatan dan sebagainya. Guru SD biasanya selain bertanya tentang keadaan si anak di rumah, juga mengabarkan bagaimana sikap si anak di sekolah. Menurut ibu K, wali kelasnya, Banyu dianggap ringan tangan karena suka membantu teman yang bertugas melayani anak-anak makan siang meski itu bukan gilirannya. Selain itu Banyu termasuk dianggap anak yang lumayan daya tangkapnya karena selalu dapat nilai 100 dalam ulangan harian. Oh ya, ulangan harian ini tidak pernah dijadwalkan, jadi selalu ulangan dadakan saja.

Kunjungan guru biasanya tidak berlangsung terlalu lama. Antara 20-30 menit setiap kunjungan. Saya merasa diperhatikan juga dengan adanya kunjungan seperti ini karena kami para orang tua murid (terutama yang bekerja) tidak punya banyak kesempatan untuk berjumpa dengan wali murid karena semua anak harus berangkat dan pulang sekolah sendiri tanpa diantar-jemput oleh orang tuanya, kecuali anak berkebutuhan khusus. Selain guru berkunjung ke rumah murid, kami para orang tua murid secara berkala juga diundang berpartisipasi dalam pada hari open class untuk menyaksikan proses belajar mengajar yang disebut dengan Jugyo Sankan sehingga kami orang tua murid bisa langsung menyaksikan bagaimana anak-anak berinteraksi dengan teman dan gurunya di sekolah.

Nenek Morita, atlit berusia 88 tahun


Pagi ini saya terpesona di depan TV melihat seorang nenek bernama Morita dari Kumamoto yang masih terus menjadi atlit lari jarak pendek di usianya yang ke-88. Rekor terbaiknya diciptakan ketika ia berusia 80 tahun yaitu 19 detik pada cabang lari 100 meter. Jangan mengira ia sudah menjadi atlit sejak muda. Ia baru serius berlari sebagai atlit ketika berumur 70 tahun. Ketika itu, rumah yang ditinggali bersama suaminya terbakar habis dan ia sangat putus asa karena kehilangan segala-galanya. Suatu hari ia datang ke acara perlombaan olah raga di SD (undokai) di dekat tempat tinggalnya. Perlombaan olah raga di SD ini biasanya serupa family gathering, jadi selain si anak dan orang tuanya, kakek, nenek, bahkan para tetangga pun turut diundang untuk menonton. Selain untuk para pelajar SD tersebut, mata lomba tertentu bisa diikuti oleh orang tua murid, guru-guru dan karyawan sekolah, bahkan para kakek, nenek, maupun penduduk lingkungan sekitar. 

Nenek Morita ketika diwawancarai di rumahnya

Kembali ke cerita nenek Morita, ketika ia datang ke acara undokai itu, ia ikut dalam mata lomba lari 100 meter yang sedianya ditujukan untuk wanita berusia 40an, namun karena kekurangan peserta maka ia yang saat itu berusia 70 tahun pun diperbolehkan ikut dan berhasil menempati peringkat kedua. Ia berkata, saat itulah ia merasakan bahwa lari adalah hal yang menyenangkan dan mulai menekuninya secara serius. Saat itu ia teringat bahwa memang ketika duduk di bangku SD ia lebih senang berolah raga daripada belajar di dalam kelas.

Nenek Morita yang sangat sehat di usia lanjut ini tidak mempunyai pantangan makan apapun. Tadinya saya mengira ia mempunyai pola diet khusus untuk menjaga staminanya. Tapi ternyata tidak. Bahkan setiap hari selama puluhan tahun ia selalu sarapan daging yang di tumis, telur mentah dan salad plus nasi putih. Seminggu dua kali ia pergi makan siang ke restoran unagi (semacam belut). Resep sehat dan panjang umurnya adalah makan apapun yang disukainya dan menikmati hidup bersama teman-temannya. (suaminya meninggal dunia 7 tahun yang lalu).

Seminggu tiga kali ia berlatih lari di lapangan umum di kota Kumamoto bersama anak-anak SD selama 2 jam. Bukan hanya lari biasa, tetapi lari sambil menarik beban berupa ban bekas yang dililit dengan tali di perutnya. Selain itu ia juga rutin berenang masing-masing 25 meter gaya bebas dan gaya kupu-kupu lalu dilanjutkan dengan sit up di dalam kolam renang. Melihat aktivitas olah raganya, sangat sulit mempercayai bahwa ia berusia 88 tahun! Ketika tim dari TV yang meliput nenek Morita meminta agar ia mengukur lemak di tubuhnya menggunakan alat medis, ternyata ia hanya memiliki 1% lemak di organ dalamnya termasuk jantung (angka 1 persen ini berarti hanya 1/6 dari angka normal wanita Jepang seusianya) dan organ dalam tubuhnya dinyatakan berusi 53 tahun!

Nenek Morita sedang berlatih
Di rumahnya, ia memiliki lebih dari 300 piala dan medali yang berhasil dikumpulkannya selama 18 tahun mengikuti pertandingan atletik baik di Jepang maupun di luar negeri. Ia memiliki beberapa rekor terbaik tingkat dunia untuk orang tua seusianya dan rencananya di usia 90 tahun ia akan mengikuti pertandingan atletik tingkat dunia dan berambisi memecahkan rekor lari 200 meter nya. 

Melihat nenek Morita ini saya seakan dijewer dengan keras. Berbahagialah kita yang berbadan bugar dan berusia muda. Kadang-kadang kita lupa untuk memanfaatkan badan kita dengan sebaik-baiknya. Dan yang lebih utama adalah kadang-kadang kita lupa untuk memiliki semangat hidup tinggi dan menjalani hidup dengan senang dan penuh makna hanya karena menghadapi sedikit kesulitan.

Terima kasih sudah menginspirasi saya hari ini. Morita san, arigato!